Tampilkan postingan dengan label Pranikah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pranikah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Agustus 2016


Alvin Faiz dan Larissa Chou (sumber foto: bintang.com)

Pernikahan Alvin Faiz, putra sulung dari ustadz kondang Arifin Ilham, dengan mualaf cantik keturunan China, Larissa Chou, memang masih jadi viral di media sosial. Banyak yang memuji keberanian Alvin yang menikah di usia muda, bahkan masih 17 tahun. Larissa yang kini bernama Siti Raisa itu pun juga terbilang masih muda, meski beda dua tahun lebih tua ketimbang Alvin.

Saya yakin, jombloers sampai halal pada ngiri dengan keberanian Alvin. Mungkin mereka juga pada ngebayangin yang indah-indah karena sudah halal.

"Enak kali ya, kalau sudah nikah, bisa pacaran sepuasnya nggak dosa. Jalan berdua sambil pegang tangan nggak ada orang yang bakalan protes. Bisa mesra-mesraan, bahkan lebih dari itu boleh. Dapat pahala lagi."

Apalagi yang demen nonton drama Korea atau baca novel romantis, bayangan mereka mungkin lebih ngayal lagi. Hihihi.

Tapi, mblo, menikah itu tidak sekadar yang indah-indah saja lho. Ada banyak aneka rasa di baliknya, dari yang manis sampai pahit. Dari yang asin sampai kecut. 

Apalagi menikah itu menyatukan dua insan yang tak hanya berbeda jenis, tapi juga dari karakter sampai pemikiran akan ada banyak perbedaan. Dalam berumah tangga, hal sepele akan menjadi masalah bertele-tele jika kedua belah pihak menyikapinya dengan egois versus egois. Sesungguhnya saat menapak menuju gerbang bernama rumah tangga, tingkat emosional kita meningkat dua kali lipat saat masih single dulu. Serius, mblo. Gampangnya saja begini, jika semasa lajang dulu, tingkat kebaperan kita kadarnya hanya 10 %, maka setelah berumah tangga akan naik melebihi kadar itu.

Ini wajar karena saat menikah, kita akan merasa bahwa pasangan kita ibarat bagian tubuh yang sudah menyatu dengan kita, tapi tetap dengan dua kepala dan hati yang isinya beda. Jadi saat ada selisih paham, ada kemungkinan akan saling ngotot dengan pendapatnya sendiri. Jika hati disakiti, rasanya akan jauh lebih sakit ketimbang disakiti orang lain. Ya, kebayang kan gimana rasanya saat kita tiba-tiba tanpa kendali, terus ditampar oleh tangan kita sendiri? Ini jelas terjadi jika pasangan gagal memahami dan mengerti bagaimana pasangan kita.

Maka dari itulah, mblo, menikah itu bukan soal berani atau tidak, tapi butuh kesiapan (kemampuan). Rasulullah Saw bersabda, "Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng)” (HR Bukhori, Muslim, dan Tirmidzi)

Lalu apa saja kesiapan itu? 

1. Kesiapan mental

Berani nikah, belum tentu siap mental. Dengan kesiapan mental ini, calon pasangan memang sudah memperhitungkan betul segala rintangan yang menghadang. Sehingga jika diuji dengan masalah besar, mentalnya akan kuat menghadapinya. Ia akan berusaha memecahkan masalahnya bersama, dengan tidak lari menjadi pecundang. 

Meski berani nikah, tapi tidak siap mental, saat diuji dengan masalah besar bisa saja ia pasrah saat bahtera rumah tangganya tenggelam atau menjadi seorang pengecut dengan meninggalkan pasangannya dengan berenang sendiri. Maka, berani nikah harus dibekali siap mental juga agar bahteranya tetap berlayar menuju tempat yang dituju, yakni Syurga Allah.

Apalagi jika tak berapa lama kemudian istri hamil. Jika tak siap mental, akibatnya bisa fatal karena suami tidak siap mental menghadapi kondisi psikis istrinya yang labil.


2. Kesiapan emosional

Tak selamanya pernikahan itu seperti pengantin baru. Dari romantis, bisa saja lambat laun akan terasa teriris-iris jika kita terlalu baper menyikapi perbedaan karakter dari pasangan kita. Apalagi jika istri mengalami fase hamil, melahirkan, menyusui dan mengurus anak. 

Saat seperti ini, istri akan lebih emosional dari sebelumnya karena hormon yang tidak seimbang. Mungkin dia akan lebih cengeng, tersinggung sedikit, bapernya bisa berkali-kali. Sering nangis di pojokan. Mangkel saat suaminya justru tidak peka dengan perasaannya, padahal dia sendiri cenderung menyembunyikan unek-uneknya.

Suami bisa saja jengkel dengan kondisi istrinya yang berubah seperti ini. Jika ia tidak siap secara emosional, kontrol emosinya akan lemah. Akibatnya? Marah-marah, membentak bahkan nyeplos mengatai kasar. 


3. Kesiapan akan tanggung jawab

Menikah memang tidak perlu harus mapan dulu. Bahkan yang masih pengangguran pun boleh menikah juga. Tapi syaratnya dia harus siap dengan tanggung jawab untuk menafkahi baik lahir maupun batin ketika menikah nanti. Jangan khawatir soal rezeki, karena Allah berfirman yang artinya, "Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nuur 32)

Kalau dia masih kuliah? Dapat 'beasiswa' dari orangtua? Ya, tidak masalah selama dia memang sudah siap tanggung jawab menafkahi istri semampunya. Kalau dia masih kuliah, belum bekerja, sementara istrinya diberi sebagian uang saku dari orangtua juga nggak apa-apa. Toh, istrinya juga ridho. Karena kesepakatan awal, uang kuliah istri dibiayai ortunya sendiri juga nggak masalah. Tapi andaikan dia berusaha mencari nafkah sendiri disamping kuliah, tentu lebih bagus.

4. Kesiapan ilmu

Tanpa bekal ilmu, bahtera rumah tangga akan berlayar tanpa arah. Bisa-bisa salah jalan. Maka, penting sekali membekali diri dengan ilmu baik ilmu agama maupun ilmu duniawi seperti kesehatan, gizi, psikologi dsb. Maka kalau sudah berani menikah, bekal ilmu harus sudah siap.

5. Kesiapan jodoh

Nah, ini dia kunci terakhir. Mental dan emosional sih sudah siap. Siap menafkahi, dan bekal ilmu juga sudah banyak. Tapi masalahnya: jodohnya belum ketemu. Hihihi.

Pinginnya mungkin bisa nikah muda. Lulus SMA langsung nikah. Atau nikah sambil kuliah. Tapi ya itu tadi kendalanya: jodohnya belum ada.

Maka, untuk mewujudkannya perlu ikhtiyar untuk mencari jodoh lewat jalan yang halal, yang tidak bertentangan dengan jalan yang diridhai Allah. Jika ikhtiyar sudah dilakukan, kita berdoa kepada-Nya, memohon dipilihkan yang terbaik. Lalu kita pasrahkan kepada-Nya dengan siapa dan kapan kita bertemu dengan jodoh kita. 

Percayalah, jodoh itu bukan soal lebih cepat atau lambat. Bukan karena masih 17 tahun atau sudah 27 tahun. Allah menjodohkan hamba-Nya dengan sangat pas di waktu yang tepat. Mungkin bisa besok, lusa, bulan depan, tahun depan atau entah kapan, karena Dia Maha Tahu yang terbaik bagi hamba-Nya.

Kembali pada Alvin yang berani nikah muda. Dia bukan hanya berani, karena sebelum menikah, dia sudah melewati persidangan di Pengadilan Agama Cibinong. Hakim pun setuju setelah banyak bertanya dan melihat "mature enough" dari Alvin untuk menikah. Alvin juga punya bekal ilmu yang banyak. Dia sendiri dari kecil sudah punya bakat leadership dan sosoknya rendah hati.

Hematnya, Alvin memang punya kelima kesiapan yang saya sebutkan tadi. Dia tak sekadar hanya modal berani, tapi memang sudah siap membina rumah tangga bersama Larissa Chou, istrinya. Lalu, bagaimana dengan kamu, Mblo? :)

Jumat, 29 April 2016


"Aku terganggu dengan statusnya..." Ini contoh status fbers yang susah move-on.

"Dalam diamku, aku ikut bahagia dengan kebahagiaannya..." Contoh status fbers yang bisa move-on tapi masih perhatian, sebagai saudara sesama muslim.

"Mau dia nyetatus apapun, nggak ngaruh buat gue. Biasa aja." Contoh status fbers yang bisa move-on, tapi reaksinya sebodo amat karena hatinya sudah benar-benar netral.

Dan kamu, masuk golongan mana? :D

Meski tidak menganut budaya pacaran atau ta'arupan pake huruf 'p', saya pikir, semua orang pasti punya 'si masa lalu' (itu juga kalau dia masih normal, hehe). Si masa lalu yang dimaksud bisa seseorang yang dulu ditaksir dalam diam, tanpa berani mengungkapkan (lewat jalan yang halal). Atau karena si masa lalu sudah keburu dilamar oleh yang lain.

Kalau ngomongin soal si masa lalu, adanya facebook itu berasa kayak gangguan bagi mereka yang sulit move-on. Setiap kali dia posting kebahagiaan dengan suami (istri), jadi baper sendiri. Nyesek banget. Sakitnya sampai 'nujeb' di hati. Beuh, segitunya?

Saking nggak tahannya, dia unfollow statusnya, biar hatinya nggak panas. Berhasil move-on?

"Hiks, enggak! Kenyataannya setiap kali buka facebook, jemari ini gatel kepengen ngintipin kronologinya dia."

Biar nggak gatel, akhirnya dia terpaksa unfriend dengan si masa lalu. Membantu?

"Fuihh, enggak juga!" Setiap hari dia selalu ngetik namanya di kolom 'search' buat ngepoin kabarnya.

Karena hati makin sakit, dia terpaksa ngeblokir si masa lalu. Sukses?

"Bbrbb, engggakkkkk!" Karena kepo, dia buat akun fb baru dengan nama samaran, kemudian nge-add dia lagi. O-ow!

Hehehe, emang susah ya kalau hati ini sulit move-on dari si masa lalu. Malah jadi rempong sendiri. Padahal move-on itu bukan soal kita 'memutus pertemanan' di facebook dengan si masa lalu, kemudian selesai (bisa move-on). Karena yang jadi masalah disini adalah hati kita. Mau segigih apapun kita berusaha unfollow, unfriend, atau bahkan blokir, tidak akan membantu jika hati kita masih tergadai oleh si masa lalu.

Karena menurut hemat saya, melupakan itu bukan lantas kita menjauhinya sejauh-jauhnya. Sekali lagi, ini tidak akan membantu jika hati kita masih tergadai olehnya.

Lalu bagaimana agar kita bisa move-on darinya?

Jangan tengok kemana-mana, fokuslah dengan hati kita. Bersihkan ia dengan banyak-banyak mengingat-Nya. Allah SWT berfirman yang artinya, "...ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'ad 28)

Ya, dengan cara ini, insyaAllah move-on kita akan berhasil. Allah akan senantiasa memberikan pencerahan jika kita mendekat pada-Nya.

Percuma kita memutuskan pertemanan atau bahkan sampai nge-blokir, jika pada kenyataannya kita gagal move-on. Karena yang jadi masalah disini adalah hati kita. Titik.

Andai saya punya si masa lalu, saya tidak perlu repot sampai harus memutus pertemanan. Karena damai itu lebih indah. Malah, jika saya tahu istrinya, saya bakalan add dia sebagai teman. Alangkah damainya jika kita bisa berteman baik (sesama istri).

Karena hati kita sudah move-on seratus persen, status apapun yang mereka bagi, nggak ngaruh buat kita. Mereka bahagia, kita turut bahagia. Begitu halnya sebaliknya. Perasaan itu timbul karena kita adalah saudara sesama muslim. Tidak ada perasaan spesial. Jika kita malah bereaksi sebaliknya, bukankah ini dengki namanya? Dengki karena dendam tak jodoh? Ini berarti kita masih gagal move-on dong yak!

Itu pendapat saya, mungkin bagi yang lain, move-on harus menjauhi, memutus pertemanan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, ya monggo saja. Karena tujuannya adalah bisa move-on sepenuhnya. Kalau saya lebih memilih tidak memutus karena (andai saya punya si masa lalu) toh dia tidak tahu jika saya pernah menaruh perasaan dengannya. Maklumlah, saya tipikal orang cuek yang enggan mengakui atau bahkan mengungkapkan (meski lewat jalan yang halal. Lah?! Hohoho). Bisa jadi juga, dia nggak kenal saya, wkwkwk. Hehe, cuman seandainya lho. Kenyataannya seperti apa itu rahasia. :)

Minggu, 17 April 2016

Menanti memang butuh kesabaran. Tak mudah melewati masa-masa ini. Kita yang terus dibombardir dengan pertanyaan kapan, kapan dan kapan, serasa seperti ketusuk duri, andai membawanya sampai ke hati. Desas-desus orang di belakang, bahkan sampai omongan miring seakan menambah rasa sakit itu.

Kita ingin menutup telinga, mengunci rapat hati agar tak sampai sakit hati, nyatanya itu sulit ditunaikan. Kita berusaha kuat, mencoba untuk tegar, tapi cibiran mereka benar-benar menyesakkan. Seperti sebutan perawan tua, mandul, atau apalah itu.

Inilah sesungguhnya ujian penantian itu, ujian yang mengocok-ngocok kesabaran kita. Dulu saya pernah menulis sebuah artikel berjudul, "Ujian Kesabaran Ibarat Menanti Hujan Reda". Saya terinspirasi dari postingan teman di Facebook saat ia menanti hujan reda usai shalat shubuh di masjid karena tidak membawa payung.

Menunggu saat menanti hujan reda jelas menyebalkan. Kita bahkan tidak tahu sampai kapan hujan akan reda. Jika nekat, akan basah kuyub. Jika menunggu, mau sampai kapan?

Andai tak sabaran, mungkin kita akan memaki hujan. Kenapa turun hujan di pagi buta? Mengapa tiba-tiba? Bahkan sebelumnya langit tidak tampak digelayuti mendung?

Ah, apa salah hujan turun tiba-tiba? Dia datang atas perintah-Nya untuk membasahi bumi. Tak peduli manusia menolak atau mencoba mendikte kapan datangnya. Karena dia patuh pada perintah-Nya, Allah SWT-lah yang telah menciptakannya, bukan manusia.

Sesungguhnya hujan itu adalah rahmat dari-Nya. Allah berfirman dalam QS. Al-A'raaf 57 yang artinya, "Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan)..."

Dalam Surat lain Allah juga berfirman, "Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak..." (QS. Al An'aam 99)

Dengan hujan, tanaman akan tumbuh lebat hingga menghasilkan buah di kemudian hari. Tanpa hujan, makhluk di bumi akan mati. Itulah sesungguhnya buah dari kesabaran. Allah berfirman, "Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl 96)

Kembali pada postingan teman yang menunggu hujan reda selepas menunaikan shalat shubuh di masjid. Andai dia mau bersabar, dia akan masuk ke masjid, memanfaatkan waktu menanti ini dengan qiroah, berdzikir, membaca buku yang ada disana dan sebagainya. Jika masih hujan, dia keluar, menikmati hujan, bermain-main sebentar dengan menengadahkan tangan sehingga rintik-rintiknya berloncatan di telapak tangan. Lalu dia merenung, memahami kekuasaan-Nya. Hingga tanpa terasa, hujan akhirnya reda juga. Dia pulang ke rumah tanpa basah kuyub, dengan oleh-oleh ilmu luar biasa dari penantian tadi.

Lain halnya jika dia gagal bersabar. Dia terus menggerutu. Khawatir jika hujan tak kunjung reda. Serasa lama. Karena tak sabaran, dia nekat menerebos derasnya hujan. Padahal rumahnya lumayan jauh. Dia rutuki nasibnya karena baju basah kuyub, kaki penuh pasir, kedinginan dan sebagainya. Dia makin memarahi hujan karena tak jua berhenti.

Begitulah gambaran dari penantian itu. Tinggal kita memilih terus bersabar atau merutuki nasib?

Saya juga pernah berada di posisi penantian yang mengubek-ngubek kesabaran, menunggu jodoh dan menanti buah hati. Saya tahu bagaimana rasanya berada di posisi ini. Mereka terus bertanya kapan, padahal kita tidak tahu jawabannya. Mereka kepo bertanya, "Udah isikah?". Kita hanya bisa menjawab ngocol, "Isinya ada banyak..." Lengkap dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

Saya selalu percaya, Allah akan mempertemukan kita dengan jodoh di waktu yang tepat, menurut-Nya. Pun dengan hadirnya buah hati. Ketika Ia menilai kita siap, pantas, dan layak bertemu dengan seseorang yang dinanti, saat itulah Allah datangkan ia pada kita. Mungkin kita menilai telah siap dan pantas, tapi belum tentu menurut-Nya.

Andai saya menikah empat tahun lebih awal, bisa jadi saya kesulitan mencintai suami karena saat itu saya masih terkungkung dalam pemahaman cinta yang salah kaprah. Andai saya nekat nikah tiga tahun lebih awal, ketika itu saya masih gamang menatap pernikahan. Andai saya menikah dua tahun lebih awal, boleh jadi saya akan menjelma menjadi ibu-ibu penggemar sufor dan hobi nyekokin anak dengan aneka junkfood. Andai saya menikah setahun lebih awal, mungkin saya akan meninggalkan anak-anak untuk bekerja di luar rumah.

Sungguh jalan-Nya sangat indah, teman. Saya tidak pernah berdoa untuk disegerakan jodohnya, tetapi jika saya dinilai oleh-Nya telah siap, pantas dan layak untuk menjadi istri, saya mohon kepada-Nya untuk mempertemukan saya di masa itu. 

Selama masa penantian itu, Dia banyak memberi petunjuk kepada saya. Dia tempatkan saya pada profesi yang kelak bisa jadi bekal saat menikah nanti. Saya siaran gizi bersama narsum sekaligus sahabat di bidang gizi. Saya juga jadi redaktur majalah yang mengharuskan saya membaca semua naskah yang masuk. Saya menulis belasan halaman di setiap edisinya. Karena profesi ini, saya harus rajin membaca, menggali ilmu lebih banyak lagi.

Setahun sebelum menikah, saya dihadiahi oleh Allah sebuah kecelakaan. Karena kondisi kaki yang belum stabil, untuk sementara saya tinggal di asrama. Niatnya sebetulnya hanya sementara, tapi karena ada banyak pelajaran berharga disana, saya bertahan sampai menikah. 

Di asramalah, saya mengenal banyak karakter anak-anak asrama. Menyadarkan saya, betapa ibu sangat berperan penting dalam pendidikan anak-anaknya. Karena inilah, saya harus bersama anak-anak kelak.

Pun, dengan hadirnya buah hati. Allah sedikit menunda memberi amanah buah hati, karena Ia ingin memberi kesempatan kepada saya untuk menyelesaikan amanah pekerjaan yang belum maksimal ditunaikan. Karena saya sudah berazzam, jika saya jadi ibu, saya akan resign. Saya juga diberi kesempatan untuk belajar menjadi ibu, sedikit lebih lama lagi, sebelum saya benar-benar dipercaya menjadi ibu.

Karena pernah di posisi ini, saya jadi lebih memahami mereka yang dalam masa penantian. Biarpun tidak kenal, biasanya saya akan mendoakan mereka dalam diam. 

Inilah hikmah di balik penantian itu. Percayalah, meski terasa getir, sesungguhnya ada kebaikan di sana. Karena Dia tahu yang terbaik bagi kita, untuk yang lalu, saat ini, dan juga nanti.

Jumat, 18 Maret 2016

"Alasan aku memilihmu, karena aku tidak menemukan alasan untuk menolakmu..."

Kadang jomblo-jomblo sampe halal, terutama yang ikhwan nih, maju mundur kalau mau ngelamar si akhwat yang ditaksir (naksirnya hanya dalam diam lho ya). Mau maju, takut kalau kena tolak. Mau mundur, gak siap patah hati. Alhasil ya, cuman disitu-situ saja.

Saya anggap wajarlah ya kalau takut kena tolak. Pasalnya, si akhwat yang ditaksir juga bukan orang sembarangan. Dia shalihah. Cantik. Anggun. Lemah lembut. Pintar. Populer. Anak orang berada. Bapaknya ustadz ngaji. Dan yang jelas, saingannya banyak.

Biasanya, belum maju sudah memvonis sendiri: paling juga ditolak! Padahal belum tentu juga lho!

Coba amati deh, si akhwat yang dulunya termasuk high quality jomblo, setelah menikah, terkadang kita dibuat heran dengan pilihannya. Yang kita kira dia bakalan milih yang mapan, ganteng, pintar, populer dsb, ternyata pilihannya jauh dari yang kita sangka-sangka.

Mau tahu alasannya apa? Ya, alasannya karena kalimat yang saya kutipkan diatas. Yang nulis serius gak nih? Serius, bro! Saya sudah melakukan survei kecil-kecilan, walaupun metode surveinya gak kayak bikin skripsi (wkwkwk).

Jika dia shalihah betulan, dia tidak mungkin menolakmu karena kamu belum punya pekerjaan yang mapan, karena kamu kalah ganteng dari bintang Korea (apa sih :D), karena motormu masih butut, atau karena kamu tidak bergelar Es-Es itu (Es teh? Es degan? Es cincau? :p)

Paling tidak kamu punya nilai plus seperti yang saya ungkapkan beberapa di bawah ini.

Pertama, agamanya bagus. Pertimbangan agama disini tidak cukup hanya karena statusnya sudah warga ngaji. Tetapi bagaimana semangat ngajinya, penguasaan ilmunya, pengamalan hasil yang dikaji, termasuk juga perjuangan dakwahnya. Apalagi, kamu juga termasuk pemuda yang mencintai masjid. Bakalan jadi nilai plus banget deh!

Kedua, akhlaknya oke. Mau ngajinya sedari kecil, atau anaknya ustadz ngaji sekalipun, kalau akhlaknya amburadul, ya mendingan ke laut sana! Hus, hus, hus!

Ketiga, berjiwa pemimpin. Ini bisa terlihat dari rasa percaya dirimu saat momen ta'arufan. Jika kamu minderan, apalagi sampai terlihat grogi banget, mau ngomong saja pake acara 'keder', siap-siap bakalan kena tolak! Karena doi termasuk high quality jomblo, biasanya dia akan mengujimu dengan pertanyaan killer. Ya, karena dia ingin tahu seberapa tinggi jiwa pemimpinmu.

Keempat, tanggung jawab dengan kewajibannya memberi nafkah. Karena dia wanita shalihah, dia akan paham dengan keadaanmu. Buat dia, tidak masalah jika kamu belum mapan secara finansial. Yang penting, kamu tetap bertanggung jawab akan kewajibanmu memberi nafkah baik lahir maupun batin.

Kelima, bukan seorang perokok. Ini juga penting sekali saya masukkan disini. Karena pada kenyataannya, yang diam-diam masih merokok itu banyak.

Minimal punya lima poin ini, kamu sudah jadi orang yang patut untuk dipertimbangkan. Tidak ada kata ciut nyali, atau takut kena tolak. Ketimbang nyesel belakangan, mendingan kamu secepatnya nyari perantara terpercaya buat ta'arufan bareng si doi.

Tapi, saingannya banyak, gimana? Yakin nih, saingannya banyak? Terkadang--karena banyak orang menyana gak jelas tentang si doi--justru satupun gak ada yang berani 'nembung' dia. Ya, karena belum maju, sudah merasa ditolak. Jangan khawatir kalau saingannya memang banyak. Yang nerima suami naik onthel, padahal ada calon lain yang naik mobil, ada kok! Yang nerima suami dengan motor bututnya, padahal banyak calon lain yang motornya jauh lebih oke, juga banyak! Jadi, jangan risau, sob! Okae, okae!

"Perasaan doi cuek banget kalau ketemu aku. Malah, reaksinya kayak gak kenal gitu. Padahal kita dulu satu kelas, satu kampus..."

Weik, doi cuek itu sebenarnya hanyalah benteng dia sebagai wanita shalihah. Biar hatinya terjaga. Masa' iya dia sok akrab gitu dengan lawan jenis? Kalau ini mah, bukan akhwat shalihah namanya, tapi akhwat abal-abal.

"Tapi etapi, masa' aku diterima karena doi gak menemukan alasan untuk menolakku? Berarti dia terpaksa dong? Dia menerimaku juga bukan karena mencintaiku..."

Hmm, harusnya kamu bangga dia menerimamu karena tidak menemukan alasan untuk menolakmu. Ini artinya dia memilihmu karena Allah. Karena Allah-lah dia takut untuk menolak pemuda shalih sepertimu. Jangan ragukan cinta dan kasih sayangnya setelah menikah nanti.

Karena cinta pasca menikah itu tumbuh, bukan jatuh. Karena dia tumbuh, maka rawatlah dengan baik. Jangan sampai ada tanaman pengganggu yang justru tumbuh subur disana.

So, masih nunggu apalagi? Mendingan segera sebelum keduluan sama yang lain. Ketimbang nyesel belakangan. Ya gak sih?

Kalau hasilnya ditolak, gimana? Berarti doi memang bukan sosok yang tepat dan terbaik untukmu. Jangan patah hati, karena Allah justru tengah menyiapkan sosok yang lain yang insyaAllah benar-benar tepat dan terbaik untuk mendampingimu.

Sabtu, 12 Desember 2015

Ya, faktor pekewuh dan alasan umur, terkadang jadi sebab kenapa akhirnya beberapa jomblo sampe halal memutuskan menerima si dia untuk lanjut ke jenjang pernikahan. Padahal, jauh dari relung hatinya, ada keraguan teronggok disana. Tapi apa daya, dia tidak kuasa menolak karena pekewuh dengan yang menjodohkan. Dia ustadz terpandang, merupakan pimpinan umum dsb.

Apalagi, umur juga turut berbicara. Tahun depan bahkan sudah masuk kepala tiga. Ustadz yang menjodohkan sedari awal sudah mewanti-wanti agar jangan menikah melebihi umur dua lima. Karena, katanya, ikhwan-ikhwan kalau nyari istri yang umurnya di bawah dua lima. Jika dia sampai menolak kali ini, mungkin ustadz yang menjodohkan tidak akan mau lagi menyarikan.

Ortu pun terus saja mendesak untuk segera menikah. Setiap hari mereka mengeluh lantaran para tetangga maupun kerabat selalu bertanya, kapan kita menikah. Melihat raut sedih kedua orang tua, anak mana yang tidak tercekat hatinya?

Tapi, sekali lagi, jauh dari relung hati itu, sesungguhnya ada keraguan jika sosoknya akan menjadi imam yang tepat bagi kita. Meskipun shalat istikharah sudah dijalankan berulang kali, tetap hati ini sebetulnya belumlah mantap untuk menerima dia sebagai pelabuhan terakhir. Tetapi, mau bagaimana lagi? Tak ada pilihan lain selain menjawab iya, lantaran pekewuh dan kepentok umur!

Ketahuilah, sobat, bahaya jika kita nekat menikah karena dua alasan ini. Berharap, kita menikah untuk menyempurnakan agama, bisa jadi yang tercipta justru malah sebaliknya.

Keraguan akan sosoknya untuk menjadi imam yang tepat semakin menjadi-jadi setelah kita tahu kekurangan demi kekurangannya. Apalagi, jika sedari awal saja kita sudah ragu, bagaimana mungkin kita akan memandangnya dengan kacamata ikhlas? Bahkan rasa kasih dan sayang tak juga muncul karena yang dilihat hanya kekurangannya saja.

Akhirnya menjadi kufurlah sudah. Suami yang kita harap bisa mengantarkan ke syurgaNya, justru malah sebaliknya. Kita terjungkal ke neraka karena pernikahan ini.

Maka, pilihlah dia karena Allah. Bukan karena pekewuh atau kepentok umur. Pilihlah dia karena hati kita memang benar-benar yakin. Keyakinan itu timbul sebagai jawaban dari shalat istikharah yang kita tunaikan.

Jika memang ragu, maka tinggalkanlah. Begitulah yang disabdakan nabi Saw. Tak perlu risau soal umur. Karena jodoh itu bukan soal terlalu cepat atau terlambat. Allah-lah yang kuasa menjodohkan hambaNya dengan sangat pas di waktu yang tepat.

Apa Yang Menjadikan Kita Ragu?

Ada baiknya, kita telaah ulang, sebetulnya apa yang menjadikan kita ragu. Jangan-jangan kriteria yang kita tentukan untuk memilih pasangan terlalu muluk-muluk. Ada lho akhwat yang menetapkan pilihannya harus yang seperti ayahnya. Padahal setiap orang mempunyai keunikan masing-masing yang tak bisa disamakan satu sama lain.

Nabi Saw menasihati umatnya tentang 4 kriteria dalam memilih pasangan, yakni harta, keturunan, rupa dan bagaimana agamanya. Satu yang tidak boleh lepas adalah agamanya. Agama menjadi prioritas utama dalam memilih pasangan.

Pertimbangan agama disini tentu tidak hanya dilihat apakah dia sudah ngaji atau belum, atau berapa lama dia mengaji. Agama itu mencakup keseluruhan. Bagaimana akhlaknya, shalatnya (apakah rajin shalat jama'ah di masjid), semangat ngajinya, pengamalan hasil yang dikaji, perjuangan dakwahnya, dan sebagainya.

Selain itu, nilai kepimpinan juga turut jadi poin penting disini. Kenapa? Ya, karena setelah menikah dia akan menjadi pemimpin untuk istri dan anak-anaknya kelak. Jika nilai kepemimpinan dalam dirinya rendah, maka bagaimana mungkin dia akan menjadi sosok pemimpin yang bijaksana bagi keluarganya?

Sebagai pemimpin, tentu dia harus punya rasa kepercayaan diri yang tinggi. Jika sedari awal saja dia merasa minder dengan keadaan dirinya yang tidak sebanding dengan istrinya, alamat dia akan jadi suami 'tertindas' nanti.

Di samping itu, wibawanya sebagai pemimpin harus ada dalam dirinya. Dia harus bisa disegani dan dihormati istri. Jika dia minderan atau selalu mengalah dengan tindakan istri (padahal tindakannya salah), bagaimana mungkin dia akan disegani sebagai pemimpin?

Suami juga berkewajiban mendidik, mengarahkan istrinya ke arah kebaikan. Istri itu ibarat tulang rusuk yang bengkok. Untuk meluruskannya harus dengan hati-hati sekali dan penuh kesabaran. Apabila diluruskan dengan kasar, dia akan patah, sebaliknya jika dibiarkan akan semakin bengkok.

Jika suami yang didambakan itu tidak memiliki beberapa yang penulis sebutkan diatas, maka adalah keputusan yang tepat untuk menolak sosok yang seperti ini. Tetapi jika dia memiliki nilai seperti yang penulis utarakan diatas, adalah rugi besar jika kita sampai menolak atau merasa ragu hanya karena dia berbeda strata dengan kita. Hanya karena dia lulusan SMA. Hanya karena dia bukan PNS. Atau hanya karena dia belum punya pekerjaan yang mapan. Semoga kita tidak salah memilih.

Sumber gambar : google

Senin, 23 November 2015

Inget cerita "Finding Husband" yang banyak diposting di grup-grup kajian Islam beberapa waktu lalu gak nie? Istri sampai gak ngenali wajah suaminya karena beberapa (bulan atau minggu ya? Lupa ikh...) terpaksa harus LDR-an selepas menikah. Nah, inilah salah satu uniknya menikah dengan yang belum dikenal. Hehe.

Nikah dengan yang belum dikenal itu emang gak banyak pengikutnya. Was-was kalau dia nanti begini atau begitu kayaknya jadi alasan kenapa jombloers ogah nikah dengan yang belum dikenal.

Wajar sih ya, kalau kita was-was, khawatir. Saya sendiri dulunya juga sempat didera perasaan kayak gini. Apalagi saya yang kepalanya terisi banyak ilmu (wuissshhh padahal cuma secenthong ilmunya :p), tingkat kekhawatiran saya sudah merambah dari yang level paling error sampai horor.

Tapi kalau segala sesuatunya kita serahkan kepada Allah, insyaAllah Dia redam rasa was-was itu. Dia tunjukkan betapa pribadinya tidak seperti yang kita khawatirkan.

Saya dan suami walau sebelumnya tidak saling kenal, alhamdulillah tidak perlu waktu lama untuk menjalin hubungan yang tidak kaku. Bahkan kami cepat sekali menyatu seperti seorang sahabat. Sahabat hidup tepatnya. Mungkin karena faktor istrinya kali ya, yang suple dan gampang bergaul (hahaha ini emak pede nian cuinnn...).

Yang jelas, di balik 'horor'-nya nikah dengan yang belum dikenal, terselip cerita unik dari mereka. Selain 'Finding Husband', banyak juga dari mereka yang gak hafal jalan pulang menuju rumah suami. Alhasil tersesatlah kemudian. Kayak saya.

Sore itu, saya belokkan motor ke sebuah gang. Beberapa meter perjalanan, saya berhenti. Gak yakin kalau ini jalan yang biasa dilewatin pas diantar suami.

Saya balik arah, kembali ke jalan utama. Motor terus digeber lurus. Sampai pada tugu masuk kampung, saya belok mengikuti arah jalan.

Shhhhttt. Motor mendadak berhenti. Sengaja direm. Pandangan saya mengitari. Asing.

Lagi-lagi saya balik arah. Tiba di pertigaan dekat tugu, saya parkir motor pinjaman kantor itu di pinggir jalan.

Bingung. Berusaha mengingat tapi nihil. Bertanya? Ah, yang ada saya malah diketawain. Masa iya saya nanyain, "Dimana rumah suamiku?" Alamat saja saya tahunya hanya kecamatan dan kabupaten.

Pffff...saya membuang napas pasrah. Apa boleh buat, terpaksa minta dijemput suami. "Aku tersesat. Pick me up... :(" tulis saya kala itu yang sukses terkirim ke nomor suami.

Dia balik membalas, bertanya dimana saya karena tidak menerangkan tempatnya. Kontan saya menulis pesan balasan dimana tepatnya saya berada.

Sembari menunggu jemputan, saya duduk di pinggir jalan dekat sawah. Dua mata saya melirik ke samping. Ada kakek yang tengah mencangkul sisa akar pohon yang sudah ditebang. Tangan saya sontak mengeluarkan hp. Sang ibu jari sibuk memencet, memotret berbagai gaya si kakek mencangkul.

Tak berapa lama, motor berwarna merah itu menyembul dari kelokan jalan. Saya berjingkat sumringah. Dari kejauhan terlihat jelas, dia tertawa geli. Saya cuman bisa nyengir, malu-maluin. Hahaha.

Yah, inilah istrimu yang bisa mengingat setiap jengkal peristiwa penting, bahkan sampai warna pakaiannya, tapi paling dedel duel kalo ngapalin rute jalan, nama jalan sampai nama orang. Hehehe.

Inilah salah dua, uniknya menikah dengan yang belum dikenal. Ada cerita unik lainnya mungkin? :)

Sumber gambar : Cyberdakwah

Senin, 09 November 2015

Meski kita sudah mantap menerima pinangan seseorang, bisa jadi kita akan diuji dengan keadaan yang terkadang membuat keikhlasan kita sedikit goyah. Terselip pula sebetik penyesalan, andai kita menunda menetapkan pilihan.

"Kamu tahu si A itu?"
"Kenapa?"
"Dia berniat melamar kamu lho! Tapi karena kamu sudah keduluan dilamar orang lain, dia terpaksa mengurungkan niatnya."

Si A adalah teman SMA yang kita kenal yang kini sukses merintis bisnis rental mobil. Bukan hanya si A saja yang hendak meminang rupanya. Ada si B, seorang dosen muda di universitas negeri yang juga kita kenal (meski tak mengenal lebih detail). Ada pula si C, yang merupakan praktisi kesehatan.

Selain mereka, sosok-sosok yang sebetulnya punya niat untuk meminang--tanpa pernah mencoba mendekati lewat jalan ilegal-- ternyata baru bermunculan selepas kita memantapkan pilihan. Padahal sebelum ini, kita sempat dibuat bingung saat orang tua bertanya, "Apa kamu sudah punya calon? Jika sudah ada, suruh dia ketemu sama bapak."

Kita bahkan menunda-menunda mengirimkan profil/proposal ke pimpinan karena berharap bisa bernasib seperti mereka: tanpa menyetor profil, tahu-tahu sudah datang lelaki shaleh yang melamar. Tapi nyatanya, ditunggu-tunggu tak jua ada. Satupun tak ada. Sementara pimpinan terus bertanya, mau sampai kapan nyetor profilnya.

Dan saat kita memutuskan mengirimkan profil kepada pimpinan, beberapa kali kita dita'arufkan dengan ikhwan-ikhwan yang profilnya tidak 'sekeren' ikhwan yang ketahuan berniat meminang. Mereka hanya lulusan SMA, ada yang sarjana tapi masih pengangguran, ada pula yang sudah bekerja tapi gaji hanya seberapa. Mereka ini juga tidak kita kenal sebelumnya. Kita yang memimpikan suami aktivis dakwah ternyata juga tidak kita temukan pada sosok-sosok ini.

Sampai pilihan kita jatuh pada sosoknya, seseorang yang kita tidak menemukan alasan untuk menolaknya. Dia mungkin jauh dari angan kita, tapi, sekali lagi, kita tidak menemukan alasan yang dibenarkan agama untuk menolaknya. Pekerjaannya mungkin tak sekeren mereka yang terlambat meminang. Penghasilannya pun begitu. Dia juga bukan aktivis yang vocal di depan menyerukan dakwah, tetapi hanya warga ngaji biasa yang istiqomah mengamalkan hasil kajinya.

Tapi dialah pilihan kita. Dialah jawaban dalam shalat istikharah kita. Mungkin kita menilai, alangkah baiknya andai kita menikah dengan salah satu diantara mereka. Tetapi, Allah Maha Tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. Dia menjodohkan hamba-Nya dengan sangat pas di waktu yang tepat.

Tentu adalah dilarang andaikan kita membatalkan pinangan yang telah disepakati hanya karena ada sosok lain yang dinilai lebih mapan. Rasulullah Saw juga bersabda, "Tidak boleh seseorang meminang atas pinangan saudaranya sehingga peminang sebelumnya itu meninggalkannya atau memberi ijin kepadanya." (HR. Ahmad, Bukhori, dan Nasai)

Dan sampailah kita pada hari pernikahan itu. Rupanya ujian keikhlasan belum berhenti sampai disini. Di hari bahagia itu, ada saja orang yang keceplosan memberitahu, jika sosok yang dinanti dalam diam itu ternyata juga punya niatan yang sama. Seperti mereka yang terlambat meminang.

Mendengar kenyataan ini, bagaimana reaksi kita? Bisa jadi keikhlasan kita bukan lagi sedikit goyah, melainkan sudah sangat-sangat goyah. Andai hati semakin dilingkupi syaitan, rasa ikhlaj menerima bagaimanapun keadaan pasangan bisa saja ambruk tak bersisa. Apalagi dalam perjalanannya sosok yang menjadi pasangan kita ternyata jauh dari yang diimpikan. Sementara ada banyak ikhwan lain yang sosoknya lebih "elok" dari pasangan kita, terpaksa mengurungkan niat meminang karena kita lebih dulu memantapkan pilihan.

Penyesalan mungkin menyelimuti. Andai kita tak buru-buru menetapkan pilihan. Andai kita sedikit menunda. Andai kita...

Ah, mengapa jadi berandai-andai? Padahal jika kita bijak menelaah ulang, kenapa kita mantab memilihnya? Siapa yang menjadikan hati kita yakin untuk menerimanya?

Semua karena Allah. Dia-lah yang kuasa menjodohkan hambaNya. Dia Maha Tahu yang terbaik bagi hambaNya. Mungkin kita menilai dia baik untuk kita, tetapi belum tentu menurut Allah. Allah berfirman yang artinya, "...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kami menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al Baqarah 216)

Karena jodoh itu bukan menurut angan kita, tetapi sesuai kehendakNya. Percayalah, tak ada jodoh yang keliru atau tertukar. Tak ada jodoh yang terlalu cepat atau terlambat. Karena Dia kuasa menjodohkan hambaNya dengan sangat pas di waktu yang tepat.

Sesungguhnya Allah hanya menguji keikhlasan kita, bagaimana jika dihadapkan pada keadaan seperti ini. Apakah kita akan tetap ikhlas, goyah atau malah kufur?

Tentu jawabannya adalah yang pertama. Karena bagaimanapun dialah pilihan kita. Bersamanya kita mantap membina rumah tangga. Dan yakinlah dengan pilihanNya. Jika kita memandang pasangan kita dengan kacamata ikhlas, insyaAllah Allah akan tunjukkan betapa pasangan kita sangat pas dan tepat bagi kita. Lewat perjalanan waktu, mata kita akan terbuka betapa dia yang terbaik bagi kita. Dia mampu melengkapi kekurangan kita, menyempurnakan kelebihan kita, sehingga kita bisa bersatu padu saling mendukung satu sama lain. Dan semoga karena perjodohan ini mengantarkan kita pada JannahNya.

Sabtu, 31 Oktober 2015


"Yang naksir sama dia mah banyak, mbak." tulis teman lewat sms.
"Lha kalau kamu, siapa yang naksir?" saya balas menggoda. Belum sempat dia menjawab, saya sudah keburu ngirim lagi. "Bersyukurlah kalau gak ada orang (maksudnya dari golongan kaum adam lhoh hihihi) yang naksir kamu. Dunia aman, damai dan terkendali. Hehehe..."

Saya sebernarnya hanya becanda dan nyeplos saja, tapi setelah dipikir-pikir ada benarnya juga. Jiahh...

Hayuk ah, mari kita kupas keuntungan menjomblo sampe halal yang benar-benar menjomblo sampe dia ketemu jodohnya (baca: dia ini jomblo sampe halal tapi ya tadi, gak ada satupun yang naksir dia kecuali saat dia udah nyetor "proposal" :D ).

Seperti yang saya bilang, dunia aman, damai dan terkendali. Kenapa? Ya jelaslah, kalau kita (etapi yang nulis bukan jomblo lagi :p) gak ada yang naksir, otomatis kita selamat dari maksiat. Gak ada orang yang mencoba ngegangguin kita untuk berbuat maksiat.

Kita juga aman dari geng pemberi harapan palsu. Beraninya ngedeketin, modusnya ngajak sharing ilmu, eh gak taunya dia cuman tukang PHP. Begitu ditagih, kalau berani ngelamar dong! Welhadalah...si biang PHP malah ngeles. Belum siap nikah katanya. Ngeselinnya dia masih saja ngajak ngobrol via media walaupun modusnya: tetep diskusi yach! Beuh, spesies macam ini mah mending  "ditendang" ke laut! :D

Emang sie yah, jadi jomblo sampe halal yang (kelihatannya) gak ada yang naksir itu kesannya kayak melas banget. Kata orang-orang yang pikirannya kelewat cupet juga nyebutnya kayak gak laku gitu.

Ketika ada teman dengan bangganya cerita, siapa-siapa saja yang sudah "nembung" ke dia buat dijadiin istri. Ada juga yang pede banget pamer berapa banyak surat cinta yang dia dapat dari orang-orang yang nyatain cinta ke dia. Lha kita? Apanya yang mau diceritain? Orang gak ada yang naksir! Xixixi.

Pun begitu, sob, jangan patah arang meskipun kamu termasuk jomblo sampe halal yang miskin "dilirik" orang buat dijadiin pasangan. Bisa jadi nie yah, ketika kamu udah nyetor "proposal" nikah sekalipun, kadang jalannya benar-benar berliku. Dita'arufkan berkali-kali, berkali-kali pula kamu kena tolak. Ngenes yah kesannya. Hehe.

Eits, tapi kamu kudu sabar, sob. Jangan nyesek gitu ah meski kamu sering kena tolak. Tuh Allah menyemangati kita dengan firmanNya, "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (QS Ali Imran 139)

Semangat terus ya, sob! Percaya diri mah kudu! Ikhtiyar, doa, tawakkal plus sabar, harus itu! Jangan takut gak kebagian jodoh. Entah kapan, insyaAllah akan ada waktu yang dinantikan itu. Jangan galau lagi yak. Saya dulu juga mantan jomblo sampe halal dan (kayaknya) gak ada yang naksir, tapi sekarang juga ketemu sama jodohnya.

Rabu, 28 Oktober 2015

Siapa nih yang sering jadi korban harapan palsu? Pasti gak akan ada yang ngaku. Hehehe.

Walau korbannya kebanyakan akhwat, tapi gak menutup kemungkinan yang ikhwan pun juga kena lho! Gak percaya? Orang saya langsung dilaporin sama si korbannya.

"Dia minta aku nunggu setahun lagi. Pas udah setahun, dia gak bilang iya atau tidak. Daripada digantung gak jelas lebih baik aku nyari yang lain." #kasus1 ya. :)

#kasus2 "Kasihan, mbak, sama si mas X itu. Dia cerita kalau dulunya dia mau nembung si mbak Y. Katanya sih nunggu habis lulus kuliah dulu. Eh, gak lama kemudian mas X denger kabar kalau mbak Y mau nikah sama mas Z."

Ini yang ikhwan. Yang akhwatnya? Widih, banyak banget bo' yang  sampai ke telinga saya.

Modusnya biasanya ngajakin diskusi. Awalnya gak kelihatan memang. Sangat halus sekali. Kalau si akhwat gak nyadar kalau dia sedang dimodusin, lama-lama akan tumbuh benih-benih cinta (ciee...). Padahal dia cuman jadi korban harapan palsu.

Walau saya mempelajari ilmu beginian (hahaha, emang ilmu apaan? Ilmu harapan palsu? :D), tapi saya juga hampir saja kecolongan jadi korban harapan palsu. Hampir lho ya, gak sampai jadi korban.

Ini terjadi ketika saya masih dalam masa transisi dari jahil menuju niat untuk berubah lebih baik lagi. Awalnya saya benar-benar menjaga dengan orang ini. Kalau dia ngajakin diskusi, biasanya saya cuman jawab "ya" "hmm", gak lama dan lebih memilih menghindar.

Tapi satu waktu saya mendengar dia berkata kepada temannya, "Aku gak mungkin menyukai wanita yang seumuran. Aku mikirnya kalau nanti sudah umur 40 tahun, itu kan puber kedua pria."

Waktu itu saya dengan lugunya mempercayai kata-katanya. Berarti kalau dia ngajakin diskusi, saya gak perlu menghindar karena dia tidak mungkin menyukai saya, batin saya yakin.

Saya mulai mengungkapkan pendapat panjang lebar kalau diajak diskusi bahas sesuatu. Tanpa saya sadari, ternyata udang di balik bakwan tetap ada juga.

Saya mulai sadar ketika beberapa hari gak ketemu saya, dia sms, kalau baru 3 hari gak ketemu rasanya kayak lama gak ketemu. Alamak! Modus kelihatan.

Lebih sadar lagi saat teman-teman sekomunitas sedang makan bersama. Ketika itu saya hendak menyiduk sayur, dia bilang gini, "Kamu kok gak ambilin aku makan?"

What's?! "Ya, ambil aja sendiri. Emang aku siapanya kamu?" jawab saya ketus.

"Kamu sebagai wanita harusnya latihan gimana ngambilin makanan ke suaminya gitu."

Lah? Ini orang pemberi harapan palsu yang hobinya bikin kegeeran. Sayangnya, saya pribadi  kalau ngadepin orang kayak gini, bukannya GR malah sebaliknya, ilfil berat! Harus dimusnahkan jauh-jauh dari kehidupan! Beuh sadis! :p

FYI nih guys, si biang harapan palsu ini gak cuman ngedeketin 1 orang. Catet itu! Jadi kamu jangan gampang keGeeRan.

Dari awal pas nyadar kalau saya dimodusin, saya sudah sangat yakin kalau dia juga ngedeketin orang lain, entah berapa jumlahnya. Bukti pertama, ada teman yang ngelapor kalau dia sedang duduk sebelahan diskusi berdua di perpustakaan.

Bukti kedua, saat saya ditelepon suruh jemput teman wanitanya yang mabuk kendaraan di terminal. Padahal saya dari Sragen dipaksa suruh jemput dia ke Solo, cuman buat ngurusin orang mabuk kendaraan. Hellow?!

Dia pikir, saya sudah masuk jebakan dia yang bisa disuruh ini itu. Ya saya jawab saja, gak mau karena saya sendiri kalau mabuk kendaraan ya ngurus sendiri.

Saya gak tahu deh, sebenarnya apa tujuan biangers pemberi harapan palsu ini? Ada yang tahu?

Seorang teman yang jadi korban harapan palsu dia bercerita. "Aku ngundang dia di pernikahanku. Ditelepon dia nanya, apa aku masih boleh bertanya soal agama ke ukhti? Ya aku jawab aja jangan. Dia bisa nanya ke teman-temannya yang ikhwan. Dia juga bilang, dia gak pengen ngelihat aku lagi karena rasanya akan sakit kalau tahu aku menikah dengan orang lain." #kasus3

Level gombalnya udah terlampau lebay kan? Ya, kalau bener dia sakit (hatinya), pasti saat si akhwat ini nyuruh ngelamar, bakal dilakukan. Kenyataannya malah bilang belum siap dan nyuruh dia nikah sama yang lain.

Anehnya, meski sudah dinasehatin agar lebih menjaga lagi dari orang-orang seperti ini, ada saja yang masih ngeyel. Alhasil dia dikibulin lagi dikibulin lagi.

Dan lebih anehnya lagi, masih juga percaya dengan biangers ngeselin ini. Malah kalau dibilangin suruh ngejauhin, dia ngebelain, "Kali ini beda, mbak. Aku lihat dia sangat serius. Dia janji mau ngelamar aku bulan Januari." #kasus4

Pff, saya gak akan banyak nasehatin kecuali bilang, "Jaga hati, ukh. Jaga hati, akh. Biar gak sampai patah hati. Emang mau jadi korban harapan palsu?"

Inget, syaitan membisiki! Dia terus membuaimu karena kamu tetap gak tergoda pacaran. Tapi dia sukses bikin kamu keGRan. Dan pas udah nyadar, e..kamu cuman korban harapan palsu.

Senin, 26 Oktober 2015

Catet ya, sob! Kunci penting buat jomblo-jomblo sampe halal pas momen ta'arufan: Kamu kudu PERCAYA DIRI!!! (inget, ta'arufannya gak pake tanda kutip atau kepleset pake huruf "p" ya, u know what i mean kan, sob :D )

Walau gak semua, banyak jomblo sampe halal ngerasa kurang pede pas proses ta'arufan, khususnya waktu mereka diketemukan. Ada banyak faktor kenapa mereka jadi ngerasa gak pede. Mungkin karena faktor fisikly, latar belakang pendidikan, keluarga dsb.

Ngomong-ngomong soal ini, saya dapat cerita dari seorang teman. Dia ini akhwat, orangnya pinter dan aktif. Satu ketika dia dita'arufkan dengan seorang ikhwan lulusan SMK.

Teman saya ini termasuk orang yang tidak memandang "siapa", makanya ketika diminta sang ustadz untuk bertemu dengan seseorang, dia berusaha untuk tidak menolaknya.

Tetapi pada akhirnya dia mantap memutuskan untuk menolak si ikhwan menjadi suaminya. Kamu mau tahu apa alasannya? Ya, salah satunya karena si doi merasa gak pede dengan tingkat pendidikan yang berbeda.

Ini terlihat dari mimik muka dan nada suara si ikhwan saat bertanya soal tingkat pendidikan sang akhwat. "Embaknya...lulusannya...sar...jana...ya...?"

Mau tahu apa komentar si akhwat usai ketemuan? "Yang benar saja, masa' dia nanyain apa lulusannya kayak minder gitu? Nerima suami kayak gini ya gak mungkinlah."

Tuh kan? Kalau kamu ngerasa gak pede dengan keadaanmu, alamat kamu kena tolak si doi. Pede itu poin plus, sob.

Inget gak cerita saat Salman al Faritsi kena tolak gadis shalehah yang dilamarnya? Pada akhirnya si gadis malah kesemsem sama sahabat yang nemenin Salman saat ngelamar. Sahabat inilah yang dengan lantang bicaranya mengutarakan maksud Salman melamar si gadis.

Kalau kamu adalah ikhwan/akhwat shaleh/ah, gak ada alasan untuk gak percaya diri. Allah bahkan menyemangati hambaNya untuk tidak bersikap lemah dan bersedih hati jika kita orang beriman (buka QS.Ali Imran 139 yak!).

Rasulullah Saw juga bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan harta bendamu, tetapi Allah melihat (menilai) pada hatimu dan amalmu." (HR. Muslim juz 4, hal 1987)

So, sob! Kamu kudu pede, pede dan pede! Soal ditolak ini mah urusan belakangan. Yang penting kamu kudu pede dengan apa yang ada di dirimu. Apalagi yang ikhwan nie, penting banget karena kamu nanti bakal jadi calon pemimpin. Ehem, ehem, ehem. :)

Sabtu, 27 September 2014



Memilih pasangan yang tepat adalah impian semua orang. Dalam hadits Nabi, ada empat kriteria yang biasanya selalu menjadi pilihan para lelaki bujang ketika ia hendak meminang seorang perempuan. Pertama, karena hartanya, kedua, karena keturunannya, ketiga, karena kecantikannya dan keempat, karena agamanya. Kriteria keempat inilah yang sering diabaikan saat memilih pasangan.

Memilih pasangan bukan hanya sekadar untuk menyenangkan naluri duniawiah saja. Andai kita sadari, betapa perannya sangat kompleks. Meski hanya sebagai pendamping, ia memegang peran-peran penting dalam biduk rumah tangga yang akan kita bangun. Ada ungkapan berbunyi, “Di balik pria hebat pasti ada perempuan hebat (istri).”

Ungkapan ini bukan berlebihan. Nabi Saw pernah didera ketakutan yang berlebihan ketika ia menerima wahyu untuk pertama kalinya. Tetapi istrinya, Khadijah ra, dengan rasa kasih sayangnya ia menenangkannya. Ia-lah wanita pertama yang beriman kepada Allah dan Rasulullah Saw. Ia juga yang mendukung penuh perjalanan dakwah suaminya, Nabi Muhammad Saw.

Istri menjadi penentu dalam membina keluarga yang sakinah mawadah warahmah (samara). Perannya bukan sekadar pendamping, tetapi melebihi pendamping biasa. Dari sekretaris pribadi sampai seorang psikolog keluarga disandangnya. Dari manajer keuangan sampai koki rumah tangga digelutinya. Dari pakar gizi hingga layaknya seorang perawat di rumah sakit juga ikut diperankannya. Bahkan tugasnya makin bertambah ketika ia sudah menjadi ibu. Kelak ia akan menjadi seorang guru sekaligus trainer handal untuk putra-putrinya.

Jika pasangan yang kita pilih tidak bisa menyadari peran-perannya sebagai istri dan ibu, maka impian membina keluarga yang samara bisa hancur dimakan oleh keegoisan. Istri lebih mementingkan karir ketimbang keluarga. Perhatian istri kepada keluarga terkalahkan oleh pekerjaan. Suami terabaikan, anak-anak juga ikut terlupakan. Karena sibuk bekerja, anak-anaknya harus berada dalam asuhan para pengasuh bayaran. Sungguh ironis keluarga seperti ini. Begitulah buntut jika kita salah memilih pasangan. Kita mengabaikan agama karena kepincut oleh kecantikan fisik, kekayaan atau dari keturunan pejabat.

Jangan Hanya Karena Cantik

Adalah wajar jika kecantikan fisik seorang wanita menjadi daya tarik seorang lelaki. Sama halnya ketika dalam memilih pasangan. Siapa yang tidak suka jika istrinya cantik? Kriteria inilah yang biasanya menjadi pertimbangan para lelaki bujang dalam memilih istri. Saat pengurus menyodori foto seorang wanita yang berwajah biasa-biasa saja dan tidak terlihat cantik, apalagi ditambah fisiknya yang agak berisi, biasanya langsung dienyahkan dari perhatian. Padahal boleh jadi si wanita ini memiliki profil hebat untuk dijadikan seorang istri shalihah.

Sebaliknya, ketika disodori foto seorang wanita yang terlihat cantik, dan saat dipertemukan pun juga sama cantiknya dengan yang ada di foto, maka jawaban yang sudah pasti akan diungkapkan kepada pengurus adalah “Ya, saya berkenan dengannya, dan ingin melanjutkan ke proses berikutnya (menikah)”. Tanpa mempertimbangkan bagaimana akhlaqnya, bagaimana kesungguhannya mengaji dan mengamalkan hasil kajian, kita langsung tertarik begitu saja karena melihat wajah cantik si gadis. Padahal boleh jadi si gadis cantik ini walaupun sudah mengaji tetapi pengamalan dari hasil mengajinya masih sangat kurang. Dalam hal penampilan, jilbab yang dikenakan masih mini dengan paduan baju yang ngepas di badan. Dalam hal akhlaq, si gadis ternyata juga tak mempermasalahkan budaya pacaran. Bisa jadi karena kecewa dengan pasangan, atau karena suruhan orangtua si gadis akhirnya mau setor foto dan profil ke pimpinan.

Jika kita beranggapan, “Ah, itu kan hanya masa lalu. Setelah jadi istri, dia akan saya didik dengan baik.” Pada faktanya, mendidik istri tak semudah membalikkan telapak tangan. Rasulullah Saw bahkan mengibaratkan wanita seperti tulang rusuk yang bengkok. Seperti sabdanya, “…Dan nasehatilah para wanita (para istri), karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan sesungguhnya sebengkok-bengkok rusuk adalah yang paling atas. Jika kamu paksa meluruskannya (dengan kekerasan), berarti kamu mematahkannya, dan jika kamu membiarkannya, maka akan tetap bengkok. Maka nasehatilah para wanita dengan baik”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1091]

Dalam sebuah lagu, wanita juga diibaratkan seperti kaca yang berdebu. Jika tidak hati-hati membersihkannya, kaca bisa saja pecah. Kita harus benar-benar mempertimbangkan apakah ketika menjadi suaminya kita bisa mendidiknya hingga benar-benar mengikuti aturan Alqur’an dan Sunnah? Apalagi, ia kelak akan menjadi seorang ibu bagi anak-anak kita. Sabarkah kita meluruskan tulang rusuk yang bengkok dengan cara yang amat hati-hati? Jika tidak yakin, maka mundur adalah pilihan tepat. Tetapi jika tetap maju—meski hati didera keraguan apakah istri bisa dididik dengan baik—memutuskan menikahinya adalah keputusan yang terlalu dipaksakan. Bisa jadi dalam membina rumah tangga akan menemui banyak hambatan.

Hambatan yang muncul bisa saja bukan hanya dalam hal pendidikan agama. Kita lihat di luar sana, banyak istri pemalas yang ogah-ogahan memasak di dapur sendiri. Mereka lebih memilih beli di warung untuk makan sehari-hari. Atau jika tidak, jajan di restoran cepat saji atau tempat makan yang merogoh kocek berlebih. Apakah ini akan jadi masalah? Jelas akan menjadi masalah karena pengeluaran sudah pasti akan membengkak. Selain itu, gizi keluarga belum tentu akan tercukupi dengan baik, tidak higienis, banyak kandungan MSG dan sebagainya.

Lain jika istri mau memasak sendiri. Apalagi jika sang istri mengetahui banyak hal tentang masakan dan bagaimana kandungan gizinya, sudah pasti kesehatan keluarga akan terjamin. Anak-anak kita akan tumbuh lincah dan sehat karena tercukupi gizinya. Selain itu, memasak sendiri juga akan menghemat pengeluaran.

Dalam hal mengelola keuangan, istri juga memegang peranan penting. Jika ia tidak pintar mengelola nafkah yang diberi suami untuk mengurus kebutuhan rumah tangga dan cenderung boros, maka yang akan terjadi adalah ia selalu merasa kurang dan kurang dan menuntut tambahan nafkah. Padahal untuk menambah nafkah, suami harus kerja pontang-panting kesana kemari dan belum tentu akan menghasilkan uang lebih banyak.

Lain jika istri yang kita nikahi pintar mengatur keuangan keluarga. Di saat harga bumbu-bumbu dapur melambung tinggi, ia bisa menghemat pengeluaran sehemat mungkin. Ia memahami kondisi keuangan suaminya. Meski dengan nafkah yang sama, ia bisa mengelolanya dengan baik tanpa meminta tambahan nafkah biarpun harga kebutuhan dapur merangkak naik.

Ini baru beberapa hal yang sederhana, tapi efeknya bisa luar biasa besar jika kita tidak bisa sabar mendidik dan menasihati sang istri dengan baik. Maka pertimbangkanlah dengan baik saat kita mencari pasangan. Jangan hanya dilihat dari wajahnya yang menawan atau keelokan-keelokkan duniawinya saja. Tetapi lihatlah bagaimana kesungguhannya mengaji. InsyaAllah, segala sifat dan sikap baik itu akan kita dapatkan jika kita menemukan seorang istri shalihah. Dialah sebaik-baik perhiasan. 

Minggu, 14 September 2014


 Ariyani (bukan nama asli) sampai menangis saat mencurahkan apa yang ia rasakan kepada temannya. Air matanya terus bercucuran ketika ia mengungkapkan bagaimana perasaannya saat itu. Hatinya begitu patah hati saat mengetahui orang yang dicintainya ternyata sudah melamar wanita lain.
Ariyani rupanya salah mengartikan perhatian dari seseorang. Ia kira, orang yang selalu mengirimkan sms dan sering mengirimkan komentarnya dalam setiap update status-nya itu menyukainya. Ternyata ia hanya salah sangka atau bahasa anak mudanya: ke-GR-an. Karena ikhwan itu justru memilih wanita lain untuk menjadi istrinya. Bukan dirinya.
Padahal Ariyani sudah menunggu lama. Ia benar-benar berharap ikhwan tersebut datang melamarnya. Karena menantinya, ia bahkan menolak untuk dita’arufkan dengan ikhwan lain. Tapi yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang, sampai kemudian ia mendengar ikhwan yang dekat dengannya itu sudah mengkhitbah wanita lain.
Apa yang dialami Ariyani ternyata juga menimpa Mahmud (bukan nama asli). Mahmud juga salah mengartikan dari kebersamaan yang terjalin dengan salah satu teman kerjanya. Ia kira, akhwat tersebut menyimpan hati dengannya. Sampai-sampai ia kepedean untuk menunggu si akhwat hingga lulus kuliah. Tapi apa yang terjadi justru lain cerita, karena si akhwat malah dilamar oleh ikhwan lain sebelum ia lulus kuliah.
Ariyani ataupun Mahmud mungkin tak sendiri. Banyak dari sobat muda juga pernah mengalami hal yang sama. Beginilah buntut dari hati yang tidak dijaga. Membiarkan perasaannya membuncah dengan harapan-harapan semu. Lalu  impian indah itu harus dihancurkan oleh kenyataan lain. Dan patah hati menjadi torehan paling menyakitkan jika dibiarkan masuk dalam perasaan.


Menjaga Hati

Sebagai orang yang sudah mengaji, sudah pasti kita tidak akan meniru-niru budaya pacaran yang dilakukan oleh orang pada umumnya. Tetapi rupanya ada “penyakit” lain yang banyak menghinggapi sobat muda, yakni gaya pertemanan yang terjalin antara ikhwan dan akhwat.
Ariyani dan Mahmud mungkin tak sampai mengalami patah hati jika sang ikhwan atau sang akhwat tersebut tidak menjalin pertemanan yang begitu dekat dengannya. Akan lain ceritanya jika mereka tidak mengumbar obrolan meski ini hanya via sms atau chatting di media sosial. Ariyani bisa jadi tidak akan salah mengartikan kedekatan yang terjalin jika sang ikhwan tersebut tidak memberikan perhatian berlebih kepadanya. Mahmud pun begitu. Ia tidak akan ke-GR-an bahkan sampai berani sesumbar kepada temannya jika sang akhwat menyukainya andaikan tidak menanggapi sms atau pesan-pesan di inbox-nya.
Meski ini tidak dinamakan pacaran seperti orang pada umumnya, tetapi menjalin kedekatan seperti kisah Ariyani dan Mahmud tadi akan sangat banyak mudharatnya. Bukan hanya menorehkan luka di hati tetapi bisa juga akan menimbulkan trauma. Lantaran terlanjur mencintai, ia sampai menolak untuk dita’arufkan dengan orang lain karena hatinya yang belum siap menerima jika bersanding dengan yang lain. Bagaimanapun, ia tidak ingin menikah jika perasaannya masih tertaut pada seseorang yang mengisi relung hatinya. Untuk menata hati, melupakan orang yang tak layak dicintai, membutuhkan waktu yang lama dan tidak setiap orang mudah melakukannya.
Entah apakah sang ikhwan atau akhwat memang menyimpan perasaan yang sama, tetapi menjalin kedekatan antara dua insan berbeda jenis ada larangannya dalam Islam. Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” [QS Al-Israa’ [17] : 32]
Allah melarang hamba-Nya mendekati jalan-jalan yang bisa menjurus pada zina. Meski kedekatan yang terjalin hanya sebatas mengirim sms, pesan melalui inbox atau chatting di media sosial, tetapi jika yang diobrolkan bukan sesuatu yang mengandung manfaat melainkan banyak mudharatnya, tentu obrolan macam ini tidak dibenarkan dalam Islam. Syaitan bisa berperan lebih jauh lagi. Tanpa kita sadari, kita telah banyak melakukan kemaksiatan karena jalinan kedekatan seperti ini.
Mungkin kita masih bisa menghalau, tidak sampai melakukan pacaran sebagaimana orang pada umumnya bahkan hingga berbuat zina. Tetapi jika setiap hari sms-an, saling membalas komentar tak kenal henti di dunia maya, chatting di media sosial siang malam, ini jelas akan mengundang banyak sekali mudharat di belakangnya.
Jika ada yang berkilah, “Obrolan kita hanya sekadar saling memberi nasihat atau hanya untuk berdiskusi.”, tetapi kenapa yang sering diberi nasihat dan diajak berdiskusi adalah seorang wanita? Apalagi obrolan ini tidak terjadi dalam forum umum yang memungkinkan orang lain ikut berdiskusi di dalamnya, melainkan ini hanya melibatkan dua insan berbeda jenis saja.
Ingat hadits Rasulullah Saw, “Janganlah salah seorang diantara kalian berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” [HR. Ahmad] Meski berdua-duaan disini hanya lewat media, tetapi obrolan antara dua insan berbeda jenis ini sangat riskan godaan untuk berlaku maksiat.
Memberi nasihat itu merupakan hal yang bagus. Mengajak berdiskusi membicarakan hal-hal yang baik itu juga merupakan hal yang bagus. Tetapi kenapa harus memilih-milih siapa yang diberi nasihat dan diajak berdiskusi? Lebih-lebih yang diajak menjadi teman berdiskusi sehari-hari itu adalah seorang wanita.
Sudah menjadi tugas kita sebagai seorang muslim menasihati saudara kita agar selalu berjalan di jalan yang diridhai-Nya. Tetapi bukan lantas kita memilih-milih siapa yang pantas dinasihati, apalagi jika sasarannya selalu ditujukan pada seorang wanita.
Bukan berarti kita tidak boleh berbicara kepada seseorang yang berlainan jenis dengan kita. Agar tidak terjadi mudharat di belakangnya, kita hanya membicarakan yang sewajarnya dan seperlunya. Termasuk, menghindari pula obrolan-obrolan yang hanya melibatkan dua insan berbeda jenis. Jika terpaksa (karena begitu penting) pembicaraan hanya mencakup yang penting-penting saja dan tidak menambah-nambah obrolan lain yang tidak terlalu penting.
Ini dalam rangka menjaga hati, baik hati kita sendiri maupun orang lain. Agar tidak ada lagi Ariyani-ariyani lain yang salah mengartikan dari kedekatan yang terjalin. Atau Mahmud-mahmud lain yang salah menduga dari sikap terbuka sang akhwat yang seolah-olah memberi ruang kesempatan untuk menjadi pendampingnya kelak.
Jangan sampai apa yang dialami Ariyani dan Mahmud juga mendera kita. Maka, pintar-pintarlah menjaga hati. Mohonlah kepada Allah, agar kita bisa menjaga hati dari perasaan-perasaan yang belum layak masuk hingga relung hati. Karena yang pantas berada disana hanyalah orang yang menjadi pasangan kita kelak yang disatukan lewat pernikahan. Sungguh indah jika kita bisa menjaga hati sampai kita menikah nanti.   
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!