Selasa, 08 November 2016




"Bun, aku mau dibuatin nugget."
"Bun, aku mau kolak."
"Bun, aku mau dibikinin cilok."
"Bun, aku pingin makan siomay."

Begitulah si kakak, 3 tahun 10 bulan, kalau lagi request camilan kepada bundanya (aslinya pakai bahasa Jawa kok, xixixi). Dia ini memang hobi nyemil. Makan nasi paling cuman seberapa, nyemilnya yang lebih banyak. 

Karena sedari kecil dia sudah saya biasakan tidak jajan sembarangan, jadi lebih mudah mengontrolnya. Sebagai konsekuensinya, emaknya yang harus uplek di dapur, bikinin camilan sendiri.

Kalau kita coba tengok jajanan anak yang biasa dijual pedagang keliling umumnya banyak yang tidak sehat. Cireng yang minyaknya sudah digunakan berkali-kali, minuman anak-anak yang mengandung pemanis buatan, bahkan ada juga yang sampai menggunakan pewarna tekstil hingga boraks atau formalin. Di tempat saya sendiri, nyatanya banyak pedagang juga menggunakan bleng untuk makanan seperti cilok, lontong, kerupuk dsb. Bleng bagi sebagian besar orang awam, dinilai sebagai bahan yang aman untuk makanan. Bahkan bleng juga biasa diperjualbelikan di pasar tradisional. Padahal bleng adalah bentuk tidak murni dari asam borat, sementara bentuk murninya banyak dikenal dengan nama boraks (detikfood).

Selain banyak yang tidak aman, jajanan anak umumnya hanyalah junkfood, makanan tinggi kalori tapi miskin gizi. Sementara jika kita bikin sendiri, kita bisa membuatnya dari bahan-bahan yang aman dan berkualitas. Agar mengandung gizi tinggi, kita bisa menambahkan aneka sayuran, protein hewani maupun nabati.

Seperti misalnya saat saya buat siomay kentang bayam saos kacang. Saya buat siomaynya dari dua buah kentang ukuran sedang ditambah 2 sdm tepung terigu dan 2 sdm tepung tapioka, agar siomaynya tetap empuk dan lembut untuk dimakan anak. Karena anak saya nggak menolak sayur, saya tambahin sayur bayam yang direbus dan juga telur puyuh. Siomaynya sudah mengandung gizi yang komplit bukan? Ada protein hewani, protein nabati, karbohidrat, lemak, vitamin, serat dsb. 

Siomay bayam telur puyuh (kanan) dan siomay kentang tahu saos kacang (kiri). Siomay dibuat dari kentang agar lebih empuk dan lembut.

Buat cilok pun pasti selalu saya mix dengan sumber protein (entah daging ayam, tahu, telur, ikan) dan juga sayuran (wortel, brokoli, kembang kol, kentang dsb). Saya biasa menggunakan bahan seadanya yang ada di kulkas. Sayur apapun yang dimasukkan, pasti mereka suka. 

Jika mereka ingin cireng (cilok goreng), biar aman dari kolestrol jahat (LDL), saya pakai minyak yang masih baru. Sementara kalau beli kan, minyaknya sudah dipakai berkali-kali. Masih panas langsung ditaruh di plastik pula. Hadeh... 

Biar menarik cilok cirengnya dibikin kekinian. Ini tetap dengan bahan-bahan lain yang bergizi seperti tahu, ikan, telur, sayuran dsb.

Mungkin ada ibu yang batin begini, "Aku mana bisa masak begituan? Masak menu harian saja masih sering dikritik suami?" Atau ada juga yang merasa nggak sempat bikin camilan sendiri karena keterbatasan waktu. 

Jangan gampang keburu nyerah gitu ah, Bun. Saya sendiri malah kalau masak suka nggak manut resep. Malas saja kalau harus nengokin resep terus-terusan. Masak cuman mengandalkan feeling yang kadang rasanya ada yang maknyus, ada juga yang kurang maknyus (karena kadang nggak dirasain dulu, atau hanya sekadar uji coba :D). Dulu malah, di awal saya masak saat jadi anak asrama, masaknya bahkan bermodal ilmu biologi, kimia, dan fisika. Hahaha, konyol kan? Tapi ternyata tiga ilmu itu kalau dipraktekin di dapur, nyatanya ya bisa juga. Hihihi.

Yang jelas, ketika Bunda ingin memberikan camilan yang sehat ke anak, kita harus punya tiga modal utama ini dulu.

1. Harus ada kemauan


Kalau Bunda sendiri nggak ada kemauan untuk memberi camilan sehat ke anak ya bawaannya pasti malas duluan. Ketika anaknya nagih pingin dibeliin cireng saat penjual cireng lewat, ya mau nggak mau dibeliin juga. Lain jika Bunda sudah terbiasa buat sendiri. Ada penjual lewat, anak minta dibeliin, kita bisa langsung cus ke dapur. Buatin cireng sendiri. 

Biar nggak punya oven dan tevlon, biar anaknya mau nasi, emaknya bikin pizza ala-ala dari telur, nasi dan bayam pakai wajan. Nekat kekinian kan? :D

Membuat camilan sendiri, selain lebih sehat dan bergizi, ini juga bermanfaat sekali untuk mengajari anak belajar sabar menunggu. Jika anak bisa dilatih sabar menunggu, maka kontrol emosinya akan bagus. Dia belajar tentang proses, tidak setiap yang dia mau akan langsung ada saat itu juga.

2. Sadar gizi


Ya, perlu kesadaran kita tentang gizi. Paling tidak, kita tahu tentang gizi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan juga mineral. Kita harus paham setidaknya secara umum, bahan-bahan makanan mana yang mengandung karbohidrat, protein dsb. Tidak sulit di era sekarang untuk belajar ilmu gizi. Ikuti saja grup gizi atau akun gizi di media sosial, baca buku tentang gizi atau kalau sempat ikut seminar gizi untuk menambah pengetahuan kita tentang ilmu gizi.

Biar nggak repot, saya biasa buat agak banyak. Sisanya buat stok, disimpan di kulkas. Ini nuggetnya dari daging sapi, tahu, telur, wortel dan kembang kol. Komplit kan?


Saya sedikit menyayangkan ketika banyak ibu yang unggah foto makanan tapi disana banyak mengandung kalori tinggi, miskin sumber gizi lainnya. Buat cilok, hanya ada dari tepung kanji dan terigu. Padahal kan bisa kita tambah bahan lain yang bergizi. Buat puding, sudah gulanya segelas ukuran sedang, masih ditambah sekaleng susu kental manis yang gulanya tinggi. Padahal kan susu kental manis bisa diganti dengan susu cair yang kandungan gizinya lebih banyak atau mungkin bisa dilapis puding jagung, labu kuning, pisang dsb. Kalau sedari dini, anak dibiasakan dengan makanan yang tidak tinggi gula dan garam, insyaAllah dia akan terbiasa dengan rasa yang tidak terlalu manis dan gurih kok, Bun.

3. Percaya diri


Nah, ini juga penting sekali. Dengan modal ini, kita justru bisa berkreasi memberikan makanan atau camilan bergizi ke anak. Kebetulan, anak-anak saya ini lebih suka makanan yang sederhana atau yang biasa dia lihat saat temannya makan. Makanya saya suka malas kalau kepoin resep di Facebook. Lah, saya pernah beberapa kali pratekin resep itu, eh ternyata justru mereka nggak mau. Hahaha, padahal rasanya juga lumayan. :D Si kakak bahkan juga nggak suka sebangsa cake, brownies, bolu dsb. Maunya roti. Tapi karena belum punya oven ya sementara kalau mau roti, beli saja dulu. Xixixi.

Seperti halnya saya pede bikin puding jagung lapis jambu biji. Karena jambu biji kalau dibikin puding jadi bertekstur banget, pada akhirnya anak cuman mau yang bagian jagungnya. :D

Pada akhirnya saya harus pede berkreasi sendiri. Untung mereka makan yang sederhana pun mau. Nyemil jagung rebus, kacang rebus, telur rebus dsb. Namanya anak-anak, kadang suka moody. Hari ini mau jagung, besoknya belum tentu mau. Tapi untuk sebangsa cilok, cireng dan siomay, mereka selalu mauuuuuuu banget. Saking seringnya bikin, emaknya udah kayak pedagang cicisi, cilok cireng siomay. Hahaha.

Tingkat kepercayaan diri yang tinggi ini berpengaruh sekali dalam kesuksesan masakan yang kita masak. Kalau pada akhirnya gagal, kita akan lebih mudah mencari solusinya. Misal bikin puding jagung tapi anak nggak suka karena seratnya terlalu tinggi (karena nggak disaring, niru resep), pada akhirnya puding jagungnya diblender lagi, disaring, dibikin eskrim. :)

Kalau kita membiasakan untuk membuat camilan sendiri, insyaAllah mereka akan terbiasa tidak jajan sembarangan kok, Bun. Ketika dia mau makan siomay, bundanya bisa jadi tukang siomay buat dia. Mau cilok, bundanya bisa jadi tukang cilok buat dia. Ya, karena kita sudah membiasakan untuk membuatnya sendiri. Hayuk, Bun, bikin camilan yang sehat buat si kecil! :)

Senin, 31 Oktober 2016


Hanya ilustrasi

Beberapa waktu lalu saya membaca postingan seseorang di Facebook yang mengisahkan tentang anak kecil yang sudah tahu tentang (maaf) sex position. Sejujurnya saya tidak nyaman dengan gambar yang diunggah karena disana memperlihatkan sepasang anak kecil yang tengah lengket berciuman. Statusnya sebetulnya bagus, tapi gambar tersebut bisa saja tidak sengaja dilihat oleh anak-anak kita jika ibunya main share begitu saja. Sayangnya, banyak ibu yang bagikan statusnya lengkap dengan gambarnya. Padahal hanya copas dengan menyantumkan sumber kan sudah boleh. 

Kembali ke postingan tadi dimana si ibu tersebut mergokin tiga anak kecil lewat di depan rumahnya. Saat itu si anak laki-laki, 6 tahun, ngajakin anak perempuan, 4 tahun, main pipis-pipisan. Dia, si anak perempuan, disuruh jongkok. Sedang si anak laki ada diatasnya. Posisinya hampir mirip seperti sex position. 

Beberapa waktu lalu saya dengar kabar anak kelas 3 SD juga sedang (maaf) saling buka celana di sebuah masjid yang lagi sepi karena tidak sedang waktu shalat. Ada orangtua yang mergokin. Entah mereka hanya sekedar penasaran atau mau berbuat. 

Ada juga seorang ibu yang inboxin saya di Facebook. Dia anak kelas 3 SD, tiba-tiba menghampiri anak kecil perempuan. Dia bilang begini, "Dek, aku lihat ***** (tetooot nyebut itu) kamu dong." Kontan si emak dan orang-orang disana yang dengar mendadak terperanjat. Kaget petir. Jelegerrrr! 

Dulu saya pun pernah nyetatus di Facebook tentang anak laki-laki kelas 1 SD juga mengajak dua teman perempuannya pergi ke sawah dan memaksa mereka (maaf) buka celana. Murid TPA saya juga pernah cerita, kalau teman-teman cowoknya (kelas 3 SD), suka (maaf) ngusap-ngusap bagian d*d* teman kelas yang perempuan.

Ada seorang ibu juga pernah cerita ke saya. Ketika itu dia hendak buang air kecil di kalen (saluran air). Dipikirnya nggak ada orang. Eh, ada satu dink, anak kecil, usia 6 tahun. Karena mikirnya toh anak kecil, dia tetap BAK disana. Ah, baru sadar ternyata dia diintipin oleh si anak kecil tersebut. :(

Inilah BunYah, mental-mental anak kecil kita yang kekinian ruarrr binasahhhh. Di usia sekecil itu, otak polos mereka sudah dipenuhi oleh hal-hal mesum. Apa dipikirnya, beberapa dari mereka ini anak orang bejat? Anak dari ortu yang suka zina dsb? Justru sebaliknya, BunYah.

Anak yang kepergok di masjid tadi bahkan ortunya rajin pergi ke masjid. Kalau ke masjid, anaknya sering diajak serta. Anak yang ngintipin ibu BAK tadi juga dari orangtua baik-baik. 

Semua ini akibat dari apa?

Yep, salah satunya adalah gadget. Gadget itu selain candu juga polusi. Dia bisa mencemari otak anak-anak kita yang polos itu jika sering melihat video atau gambar yang tidak layak untuk dilihat. Umumnya orangtua, mereka tidak sampai memikirkan akibat yang ditimbulkan ketika anaknya sudah 'dicecoki' dengan gadget sejak kecil. Membiarkan anak main gadget sesukanya, tanpa batasan, tanpa pendampingan. Dipegangin gadget agar anaknya diam, nggak rewel, nggak usrek ngerecokin emaknya. "Lha gimana? Orang kalau dijauhin, dia ngamuk."


Malah bukan hanya pinjam milik ortu, tapi dibelikan. Alasannya? Karena anaknya minta, anaknya nangis. Pfff, lagi-lagi tangis anak merontokkan ketegasan ortu.

Ortu bahkan tidak mengecek isi di dalamnya apa saja. Selain karena abai, mereka juga gatek. Ironisnya, mereka justru bangga ketika anak kecilnya sudah pintar main gadget. Dipikirnya hanya main game, nggak tahunya game-nya pun ada muatan pornonya.

Bayangkan jika senyum polos mereka terpolusi oleh hal-hal (maaf) mesum di usia sekecil mereka.

Soal anak yang mengintip ibu yang BAK atau anak kelas 3 yang pingin lihat bagian ***** dari anak kecil tadi, dia ini korban dari kelalaian ortunya yang koleksi video atau gambar porno di hp. Padahal HP-nya terkadang dipakai anaknya untuk main game. Fuihhhhhh..

So, BunYah, mari mulai sekarang kita harus waspada. Jaga baik-baik anak-anak kita. Pendidikan seks sejak dini bukan hal yang tabu. Beri pengertian pada anak-anak kita tentang menjaga pergaulan meski mereka masih kecil. Saya sendiri bahkan melarang anak saya bergaul dengan anak yang lain jenis. Kecuali disana ada anak-anak perempuan lain dan saya mendampingi.

Jangan biarkan anak menonton televisi sendiri, bahkan dia nonton sinetron ABG yang pacaran itu. Nyesek banget pas tahu ada anak 4 tahun sudah hafal nyanyi cinta-cintain. Dan jangan biarkan anak-anak kita main gadget tanpa pendampingan, tanpa batasan. 

Mari, BunYah. Didik anak-anak kita dengan nilai-nilai agama sedini mungkin. Jangan hanya memasrahkan pada sekolah-sekolah Islam, sementara orangtua abai. Pun anak bersekolah di sekolah yang pendidikan agamanya bagus bahkan sampai dimasukin ke pesantren atau sekolah berasrama, jika orangtua hanya pasrah bongkokan, ya tentu hasilnya kurang bagus, bahkan mungkin anaknya akan menjadi pembangkang karena miskin perhatian ortunya. Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang shaleh/ah. Amiin. :)

Selasa, 25 Oktober 2016


Sumber gambar : pixabay

Beberapa waktu lalu saya dibuat penasaran saat seorang teman mengunggah foto di instagram yang juga dibagikan di Facebook. Dari caption foto tersebut membuat saya bertanya-tanya sendiri, meski sejujurnya saya nggak terlalu ngeh juga. Ya, karena dia menyebut dirinya adalah a girl, not a woman. Inilah yang membuat saya mengernyitkan kening, "Bukankah dia ini sudah menikah? Apa aku yang salah menduga atau hanya gagal paham?" tanya saya dalam hati.

Seingat saya dia memang sudah menikah. Tapi? Kok saya jadi sangsi sendiri. Selama ini saya memang belum pernah melihat dia posting foto bersama suaminya. Padahal dia juga sering mengunggah foto dirinya di media sosial. Kalau dia memang sudah nikah, masa' iya nggak sekalipun unggah foto dengan suami? Mungkin lain cerita kalau itu saya yang memang tidak pernah unggah foto pribadi di Facebook.

Karena penasaran, saya sambangi kronologinya. Ya, kali saja saya hanya salah mengira kalau dia sudah menikah, padahal nyatanya belum. Saya baca komentar yang masuk, ternyata ada yang komentar, nunggu undangan. Ah, berarti memang belum nikah, batin saya. Saya pastikan lagi untuk ngecek di bio-nya. Status lajang.

Clear? Lagi-lagi, saya belum yakin. Karena dalam ingatan saya, dia pernah ngasih tahu kalau dia mau menikah. Saya tanya seorang teman yang jadi rekan kerjanya di kantor.

"Emang dia sudah menikah kok, mbak." tulisnya di WA.

Ah, iya. Saat itu juga saya ingat kalau dia pernah ngundang saya untuk datang ke resepsi pernikahannya. Dasar otak emak-emak yang gampang lupa. Hihihi. Sejauh ini saya husnudzon, mungkin dia belum sempat mengubah status dari single menjadi married, karena sibuk kali ya (walau nikahnya udah hampir dua tahun lalu :D)

Mengapa Harus Menyertakan Status 'Married' di Media Sosial?


Ini penting sekali lho. Saya sarankan bagi yang sudah menikah untuk mengecek di profil socmed-nya masing-masing. Sudahkah mengganti statusnya dari lajang menjadi menikah? Jangan-jangan belum karena nggak sempet ngedit profil? Atau sudah diubah tapi statusnya nggak ditampilin di profil? Hanya di-private? Mulai sekarang, tampilkan status bahwa kita sudah menikah. Jangan diumpetin karena dampaknya bisa nggak baik.

Inilah alasan mengapa kita yang sudah menikah untuk menampilkan status 'married' di media sosial.

1. Nanti ada yang naksir, gimana?

Ini cerita dari seorang teman. Kala itu dia dibuat penasaran dengan sebuah artikel yang mampir di inbox-nya yang dikirimkan oleh seseorang lewat grup facebook. Hanya membaca artikel itu, ia sudah dibuat terkesan oleh penulisnya. Ia berusaha mencari tahu siapa penulisnya. Singkat cerita, ia menemukan siapa penulis aslinya.

Ah, ternyata dia adalah orang yang dikenalnya beberapa waktu sebelumnya karena terlibat dalam kegiatan yang sama. Tapi satu pertanyaan besar muncul, "Dia masih single atau sudah menikah?" Di Facebook pun, dia tidak menampilkan status lajang atau married. Sampai akhirnya, dia benar-benar tahu saat ada teman memberitahunya bahwa dia memang sudah menikah.

Hm, padahal diam-diam sudah naksir. Hihihi, karena sudah nikah ya nggak jadi. :D


Yep, inilah salah satu alasannya. Kalau kita nggak nampilin status 'married', boleh jadi akan mengundang mereka yang masih jomblo naksir ke kita. Apalagi jika kita juga hobi unggah foto sendirian tanpa pasangan di media sosial. Bahkan postingan kita pun juga terlihat seperti masih lajang dan tidak menunjukkan bahwa kita sudah berkeluarga.

Mungkin bagi sebagian besar orang memang memilih tidak ingin membawa hal pribadi di media sosial. Tapi kalau dia sendiri ngeksis sendirian di socmed, sementara dia sudah berstatus 'married', apa ini nggak berbahaya? Kalau memang tidak ingin membagi kehidupan pribadi, minimal tunjukkan status di bio bahwa dia sudah menikah. Atau seperti yang saya sering lakukan, ketika saya berbagi status di Facebook, saya akan beritahukan bahwa saya adalah seorang emak erte yang menunjukkan bahwa saya sudah menikah. Meski saya sendiri di Facebook tidak sekalipun mengunggah foto bersama suami, tapi lewat cerita dalam status itu orang-orang jadi tahu bahwa saya sudah menikah.

Kasihan lho kalau ada orang yang diam-diam naksir lalu dibuat patah hati karena yang ditaksir ternyata sudah menikah. Atau jangan-jangan justru itu yang diharapkan? Hadehhhh, kok gitu?!

Sumber gambar : pixabay

2. Mencegah dari orang-orang yang iseng dengan kita

Kalau kita menunjukkan status 'married', setidaknya ini akan aman dari orang-orang yang hendak iseng dengan kita di media sosialnya. Ya, meski geng ngiseng tetap ada sekalipun kita sudah memperlihatkan bahwa kita sudah menikah. Paling tidak, kita berusaha mencegahnya. Selain itu, tetap jaga sikap terutama dengan mereka yang laki-laki karena jika terlalu akrab atau berlebihan bisa menimbulkan fitnah.

3. Orang mungkin akan berprasangka buruk, "Jangan-jangan pernikahannya bermasalah?"

Ya, boleh jadi bagi mereka yang tahu bahwa kita sudah menikah, akan berprasangka buruk, hingga menduga-duga sendiri karena mengira kehidupan rumah tangga bermasalah. Padahal boleh jadi memang baik-baik saja.

Lain jika kita membagi status sederhana semacam, "Sekalinya pingin martabak, eee...suami pulang kerja bawa martabak manis. Makasih ya, suamiku. Tanpa diminta sudah dibeliin. :-)" Status macam ini nggak pamer lho. Setidaknya, dia menunjukkan bahwa hubungan dengan suaminya baik-baik saja. Dia juga memperlihatkan kebaikan suami. Kalau dinilai pamer, ya itu sih terserah mereka mau menilai gimana. Ketimbang nyetatus curcol ngeluh mending kan ekspos kebaikan pasangan. Lak iya tho? :)

4. Sengaja menutupi status pernikahan apalagi mengaku single, akibatnya bisa fatal

Kalau sudah menikah kok ngaku masih lajang meski sekadar status relationship di media sosial jelas akibatnya bisa tidak baik, bahkan fatal. Ya, karena banyak sekali dari mereka yang iseng pasang status masih single, niatnya mungkin bukan ingin selingkuh, melainkan biar kelihatan muda dan keren. Padahal, ini jelas sudah bohong namanya. Meski hanya sekadar iseng, bohong bentuk apapun tetap dilarang dalam Islam  Hanya becanda saja dilarang, apalagi iseng bahkan sengaja menutupi status pernikahan di media sosial karena ada hati dengan yang lain. Na'udzubillah min dzalik.

Saya juga menyunting status menikah di profil Facebook.

Saya pernah baca tulisan teman di Facebook, saat itu dia bercerita ketika ada seorang laki-laki (yang sebetulnya sudah menikah), tidak mencantumkan status 'married' di Facebook. Di media sosial, dia berkenalan dengan seorang perempuan yang masih lajang. Awalnya hanya sekadar berteman, sampai mereka semakin dekat. Benih-benih cinta pun tumbuh pada si perempuan tadi. Sampai akhirnya si perempuan tahu jika si laki-laki sudah menikah. Dia kontan meluapkan amarahnya, kenapa tidak bilang dari awal jika dia memang sudah menikah.

"Aku nggak bermaksud bohong. Aku takut jika kamu tahu aku sudah menikah, kamu nggak mau temenan sama aku," ungkapnya.

Ah, tetap saja ini dilarang. Berteman dekat dengan laki-laki yang bukan mahram, baik yang masih lajang atau bahkan sudah menikah tentu dilarang dalam agama. Hubungannya bisa mengarah ke taqrobuzzina (mendekati zina). Hanya sekadar menjalin silaturahim sesama rekan kerja, mantan teman kuliah, sekolah dsb, dengan tetap menjaga sikap dan menjaga hati, tentu tidak mengapa. Tapi kudu diingat juga, jangan ada modus di balik silaturahim. :)

Tuh, kan? Ternyata akibatnya bisa nggak baik kalau kita tidak menampilkan status relationship di media sosial. Mulai sekarang, cek profil socmed kita. Sudahkah mengganti status dari lajang menjadi 'married'? Jangan lupa juga untuk men-settingnya menjadi publik agar orang-orang tahu bahwa kita sudah menikah.

Rabu, 19 Oktober 2016


Sebelumnya saya menulis ini bukan bermaksud pamer atau gimana lho ya. Hihihi, insya Allah enggak, Mak! Saya menulis ini untuk memotivasi para emak untuk tetap produktif sesuai passion-nya masing-masing. :)

Cerita ini bermula ketika pertengahan bulan September lalu, mbak Afifah Afra, salah satu penulis favorit saya, membagikan info tentang sayembara Indiva Cari Karya "Jangan Jadi Cewek Cengeng (JJCC)" yang digelar oleh Penerbit Indiva Media Kreasi, di fanpage-nya. Saat itu saya hanya sekadar baca dan belum berniat untuk ikutan. Pun begitu, tetap saya simpan jika sewaktu-waktu saya berubah pikiran.

Alhamdulillah setelah deg-degan karya saya nongol di nomor 24.

Menginjak tanggal 20, entah mengapa saya mulai menimbang-nimbang lagi. Kenapa saya tidak memanfaatkan kesempatan bagus ini? Jika naskah saya lolos, maka akan diterbitkan bersama penulis lainnya. Apalagi Penerbit Indiva sudah menerbitkan buku-buku berkualitas bagus dan mendidik dengan skala edar hingga nasional. 

Pada akhirnya, saya memilih untuk ikut serta. Saya berusaha mencari ide. Sehari dua hari berlalu, saya belum menemukan ide yang pas. Tanggal 25, sedikit menemukan titik terang. Saya membuat outline sebelum menulisnya menjadi artikel dengan panjang antara 8 hingga 10 halaman A4. Tanggal 27, saya mulai menulis.

Ternyata menulis untuk diikutkan lomba itu membuat saya sedikit grogi. Saking groginya saya kesulitan memulai. Bahkan saat itu, dalam semalam, saya hanya bisa nulis sepanjang tiga paragraf saja.  Itupun harus mengalami tragedi pen-delete-an berulang-ulang. :D

Karena saya harus fokus menyelesaikan tulisan tersebut, saya sampai harus vakum dari dunia perbloggingan selama setengah bulan. Bahkan sekadar membuat status Facebook-pun saya tak sempat. Alhasil status saya terpaksa hanya repost dari status saya sebelumnya atau copas.

Dari tanggal 27 September sampai 12 Oktober, terpaksa saya nggak nge-blog sementara waktu.

Tetap Produktif bagi Emak Erte itu Bukan Hal Mudah

Ya, sungguh bukan hal yang mudah bagi seorang emak erte yang sudah diamanahi balita batita lucu untuk tetap produktif. Saya bahkan hanya bisa menulis di saat malam hari, karena saat siang hari saya harus menemani mereka bermain dan juga disibukkan dengan segala tetek bengek kerjaan rumah tangga. Karena kecapekan, saya biasanya memilih tidur dulu dan akan bangun saat tengah malam atau dini hari.

Lantaran masih ng-ASI-in, sesekali konsentrasi saya buyar karena si kecil bangun, rewel minta ASI. Dan ajaibnya, saat emaknya nulis, anak saya yang cowok ini akan bangun hampir sejam sekali, bahkan kalau nulisnya dekat shubuh, dia malah bisa bangun setengah atau seperempat jam sekali. Sedap! Hahaha. Jangan dipikir bangunnya anteng kalem. Nay, nay! Dia rewel, nangis minta ASI. Alhamdulillah, untung yang ditagih ASI bukan sufor. #eh :p


Terkadang, saya juga ketiduran sampai shubuh. Alhasil, malam itu nggak bisa ngelanjutin tulisan. Sempat ketar-ketir karena mendekati DL, tulisan belum jadi juga. Bahkan, sempat digentayangi buntu di tengah jalan. Ada hawa pesimis kala itu, antara melanjutkan atau tidak. Tapi tetap: saya nodong suami buat bangunkan saya (karena saya ini paling susah bangun kepagian :D).

Alhamdulillah, Allah memudahkan. Dini hari tanggal 9 Oktober atau H-1 DL, artikel berjumlah 10 halaman itu akhirnya jadi. 

Pagi hari, setelah melakukan editing berulang-ulang, saya mengirimkan lewat email melalui laptop. Karena si bocil sudah bangun, dia ngerecokin emaknya. Ditariknya LCD laptop hingga ke belakang. Kadang keyboard dipukul-pukul. Bukan ngamuk, emang dia demen banget sama laptop. Dikira mainan kali ya. :D Pas, disingkirin, dia akan nangis.

Di saat begini, saya akan pasang muka melas sama pak suami sambil bilang, "Tolong dong, ajakin anak-anak keluar dulu." Xixixi. Dan betapa lega rasanya ketika email tersebut sudah sampai ke tujuan.

Menunggu Pengumuman

Tanggal 15 Oktober sesuai pengumuman, sebetulnya akan diumumkan pemenangnya. Tapi karena yang ngirim jadi segambreng, akhirnya pengumuman itu harus diundur hingga tanggal 17 Oktober.

Saya terus berdoa semoga Allah memberikan jalan yang terbaik bagi karya saya. Saya serahkan kepada-Nya, apapun hasilnya karena Dia tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. Saya juga minta suami mendoakan yang terbaik untuk karya saya. 

Jam 10 pagi, tanggal 17 Oktober, sesuai yang dijanjikan, akhirnya pengumuman pemenang sayembara Indiva Cari Karya "Jangan Jadi Cewek Cengeng (JJCC)" diposting di laman penerbit Indiva. Saya buka ditemani irama degup jantung yang tak menentu. Jemari saya bahkan bergetar saking risaunya. Bahkan rasanya hampir saingan saat nonton MotoGP ketika Valentino Rossi salip-salipan dengan Marc Marques di lap terakhir. :D

Ternyata ada 25 pemenang yang terpilih, padahal target sebelumnya hanya memilih 10 karya terbaik. Ini karena yang ngirim melebihi dari yang diperkirakan. Jumlah naskah yang diterima bahkan mencapai ratusan. 

Saya mulai menyisir hingga ke bawah. Udah nyampai belasan, nama saya belum muncul. Mulai pesimis. Bahkan di nomor 20 pun belum ada. Dan...


Saya sontak sumringah saat judul naskah saya ada di nomor 24. Saya lapor suami dan segera saat itu saya sujud syukur. Sungguh ini kebahagiaan yang tak terkira. Alhamdulillah...

Status facebook-pun hanya bisa copas, padahal saya sering berbagi status motivasi di Facebook.

Ya, saya patut berbangga karena naskah saya bisa masuk 25 terbaik diantara ratusan naskah yang dikirimkan. Apalagi disana juga ada beberapa karya yang ditulis oleh penulis senior seperti mbak Ifa Avianty, mbak Asri Istiqomah dsb. Saya sendiri bukan seorang penulis yang karyanya wira-wiri di banyak media. Bahkan di kolom pendaftaran, tak ada satupun karya yang pernah dimuat di media yang bisa saya tulis di sana. Ya, karena saya memang baru mengirimkan tulisan di dua media yang sampai sekarang belum ada kabarnya (semoga ada kabar baik ya, amiin). Sejauh ini saya memang belum banyak mengirimkan karya di media karena khawatir saja, jika tulisan saya dimuat (misalnya), tetapi tidak konfirmasi padahal saya kesulitan jika harus selalu membeli koran atau majalahnya. Makanya, saya memilih mengirim ke media yang kalau dimuat akan konfirmasi.

Baca juga : Smartphone Mengubah Saya dari Emak Kucel Jadi Emak "Ajaib"

Semoga ini menjadi awal yang baik bagi saya, seorang emak erte yang bermimpi menerbitkan novel (meski sampai sekarang idenya masih ngendep di kepala :D). Bersyukur sekali, untuk kali pertama saya mengikuti lomba menulis bergenre non fiksi, Allah mengijinkan saya menjadi salah satu pemenangnya. Semoga saya makin tersulut lagi untuk terus menulis, menulis dan menulis. Menulis yang menebar manfaat bagi siapa saja, termasuk bagi diri sendiri. Amiin. 

Terus produktif ya, Mak! Jika kita berusaha, insyaAllah Allah akan memberi jalan yang terbaik bagi kita. Ingat bahwa yang terbaik menurut-Nya terkadang tidak melulu berupa kesuksesan. Kegagalan pun juga bisa jadi yang terbaik, karena darinya kita belajar untuk menjemput hikmah di baliknya. Karena kegagalan ibarat benih perjuangan. Jika kita membuangnya, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk memetik buahnya saat ia tumbuh besar nanti. Sebaliknya, jika kita memilih menanam dan merawatnya, kelak di kemudian hari akan kita nikmati buah yang ranum-ranum itu. Tinggal kita memilih yang mana? :)

Kamis, 13 Oktober 2016




Saat belanja ke pasar, sering mengajak serta si kecil nggak, Bun? Ternyata ada banyak manfaat jika kita mengajak mereka ke pasar, terutama ke pasar tradisional. Mereka bisa belajar banyak hal dari sini. Dari bersosialisasi, kedisiplinan hingga ketanggapan.

Meski rempong karena harus gendong si adik yang belum bisa berjalan, saya merasakan banyak manfaat ketika  membawa mereka ke pasar. Karena rumah saya nempel dengan pasar, setiap pagi saya ajak serta mereka berbelanja bahan-bahan untuk menu makan harian. Berikut 8 manfaat mengajak anak ke pasar.

1. Belajar bersosialisasi

Ketika berada di pasar, anak akan bertemu banyak orang dari yang tua hingga yang kecil, laki-laki maupun perempuan dengan bermacam karakter. Berhadapan dengan banyak orang membuat mereka secara tidak langsung belajar bersosialisasi. Karena sering ke pasar, biasanya mereka akan disapa oleh beberapa penjual sayur atau buah yang jadi langganan kami. Ternyata kebiasaan menyapa ini direkam oleh mereka. Saat bertemu dengan orang yang dikenalnya, mereka akan menyapanya. Bahkan, si adik yang masih 13 bulan, juga akan menyapa meskipun dengan, "Ehhhhh... Ahhhhh..." Hihihi.

Belajar bersosialisasi memudahkan mereka cepat beradaptasi saat berada di lingkungan baru. Anak saya yang pertama alhamdulillah dengan anak kecil yang baru dikenalnya akan mudah akrab, meski terkadang perlu waktu beberapa menit untuk menjadi pengamat dulu, baru kemudian main bersama. Kalau anak saya yang kecil memang perlu 'digembleng' lagi karena dia ini akan nangis jika bertemu dengan orang baru. Untungnya saat diajak ke pasar dia nggak pakai nangis, malah senang banget.

2. Tidak gagap keramaian

Saya pernah baca artikel di salah satu portal berita bahwa rasa ketidakpercayadirian ibu itu akan menurun ke anak. Bila ibunya takut dengan keramaian, maka anaknya pun akan begitu. Ya, karena jika ibunya sendiri tidak nyaman berada di tempat ramai, otomatis anak--yang diasuhnya--juga tidak terbiasa dengan keramaian.

Pun begitu, karakter bawaan anak juga turut menjadi faktor penyebab. Anak saya yang nomor dua ini sedari bayi dia takut sekali berhadapan dengan orang baru. Dengan kakeknya yang hampir tiap hari ketemu saja dia takut sampai nangis kejer. Saat itu dia hanya mau diajak oleh Bunda, Ayah atau neneknya. Ketika disapa oleh orang lain--baik yang asing atau tidak--dia mengira akan dimarahi sehingga membuatnya takut dan menangis. Repotnya saat berada di tempat ramai yang asing, dia akan rewel. 

Untungnya saat diajak ke pasar dia justru suka cita. Ini tentu memudahkan saya untuk melatihnya agar terbiasa dengan keramaian. Alhamdulillah kini dia sudah mulai berani. Dengan orang yang dikenalnya, dia akan menyapanya ala bahasa dia, bahkan mau diajak oleh mereka. Ya, meski saat berada di lingkungan baru terkadang masih suka takut. Hihihi, perlu proses kali ya. :)

3. Membangun rasa percaya diri dan menumbuhkan keberanian

Saya biasanya akan membiarkan si kakak berjalan di depan saya. Terkadang dia tetap lurus ke depan sementara saya mau belok. Saat begini, saya manfaatkan untuk menguji mentalnya. Saya biarkan dia mencari bundanya. Terkadang dia jadi panik dan menangis. Karena banyak orang, sebelum tangisnya pecah saya panggil dia atau saya dekati. Entar saya dikira ibu tegaan. Hihihi. 

Kebiasaan ini ternyata mampu membangun rasa percaya dirinya dan menumbuhkan keberaniannya lho, Bun. Jika dia bertemu dengan teman baru, tak butuh waktu lama bagi anak saya untuk berteman dengannya. Hanya kadang yang jadi kendala kalau si teman baru ini nyuekin, bahkan sampai ngencepin dsb. Sikap yang begini yang kadang membuat anak saya hanya diam, jadi pengamat saja. Bersyukurnya, dia tidak akan menangis hanya karena dicuekin atau diencepi. :)


4. Melatih kemandirian

Dengan membiarkan anak berjalan sendiri di depan kita juga bermanfaat sekali untuk melatih kemandirian anak. Bagaimana dia berani jalan di depan, mencari rute sendiri dan terkadang diuji mentalnya saat salah rute dan kehilangan jejak bundanya (tapi bundanya sebenarnya juga tetap mantau :D). 

5. Meningkatkan ketanggapan dan kepedulian

Saat saya rempong membawa barang-barang belanjaan, biasanya si kakak sudah menawarkan diri dengan membawa salah satunya. "Yang ini biar aku yang bawain, Bun." Kadang dia salah pilih bawa barang yang rada berat untuk tangan mungilnya. "Berat, Bun. Aku bawa yang ini saja."

Awalnya, saya menawarkan si kakak untuk membantu membawakan salah satu barang belanjaan yang ringan. "Kakak bantuin bunda ya? Kakak mau bawain yang mana?" Tapi tetap tidak memaksanya, sehingga ia tidak merasa terbebani. Sekarang tanpa saya minta, dia sudah dengan sendirinya mau bantuin. :)

6. Mengenalkan sumber makanan yang sehat

Di pasar tentu banyak orang berjualan aneka macam sayur mayur dan buah-buahan. Dengan mengajak mereka ke pasar sejak kecil juga membantu mengenalkan pada mereka dengan berbagai macam sumber makanan yang sehat. Mereka tahu sayur bayam, wortel, brokoli, buah pepaya, jeruk, jambu dsb. Mereka biasanya akan kepo nanya, "Ini namanya apa, Bun? Kalau yang ini?" Jangan lupa juga beritahu si kecil manfaat jika suka mengonsumsi sayuran dan buah-buah ya, Bun.

7. Melatih disiplin jajan

Banyak yang bilang kalau mengajak serta anak ke pasar atau pusat perbelanjaan, maka akan membuat anak hobi jajan. Anak akan minta dibeliin ini atau itu. Bahkan mungkin sampai tantrum saat yang dia mau nggak diturutin bundanya.

Ah, ini tergantung bagaimana kita mendidiknya, Bun. Kalau sedari kecil kita ajari mereka membiasakan makan makanan yang sehat, memberi pengertian tentang manfaat makan makanan sehat, tidak jajan sembarangan, membatasi makanan/minuman yang boleh atau tidak dikonsumsi sesuai usianya dsb, insya Allah pelan-pelan anak akan terbiasa hidup sehat.

Seperti misalnya saat anak saya minta jenang mutiara yang ada di pasar, saya tidak membolehkannya dengan menerangkan kepadanya bahwa jenang mutiara-nya ada pemanis buatan, kalau makan tenggorokannya bisa serak. Ini betul lho, saya tidak sedang menakuti dengan membohonginya karena saya pernah merasakan sendiri. Agar tidak menyinggung, kita bisa mengajak anak menjauh dari penjualnya dulu.

Lewat pengertian dengan memberitahu akibatnya ternyata cukup efektif untuk anak saya. Bahkan dia jadi kritis sendiri. "Bun, kalau aku beli klepon disana, banyak lalatnya kan, Bun?"

"Iya. Belinya di tempatnya mbah minah saja, kalau disana karena sudah dikemasi jadi nggak dihinggapi lalat. Kalau dihinggapi lalat, nanti kakak bisa sakit perut."

"Bun, kalau aku banyak makan permen, nanti gigiku bolong ya, Bun?

"Iya, makan permennya cukup satu saja atau nggak usah makan permen malah lebih bagus. Nanti kalau kebanyakan, gigi kakak bisa bolong. Kalau bolong bisa sakit."

Muka belum mandi sudah pergi ke pasar. :D

8. Mengajarkan kesederhanaan

Pergi ke pasar tradisional juga mengajarkan tentang kesederhanaan. Di tempat ini, anak akan berhadapan dengan orang-orang yang tampil sederhana. Jarang ada orang yang tampil mewah saat pergi ke pasar tradisional. Mungkin golongan seperti ini gengsi kalau pergi ke pasar. Hihihi.

Terkadang anak juga dihadapkan pada kondisi lorong pasar yang becek, banyak lumpur karena habis hujan. Ya, karena nggak semua anak mau jalan di tempat becek seperti ini karena jijik, takut kotor dsb. 


Inilah delapan manfaat mengajak serta anak ke pasar. Gimana, Bun? Mau ajak serta si kecil belanja ke pasar? Biar rempong nggak masalah mengingat manfaatnya sungguh banyak. Atau Bunda sudah sering mengajak serta anak ke pasar? Kalau iya, share dong manfaat lain selain yang saya sebutkan di atas. Hihi. :)

Selasa, 27 September 2016


Sumber foto : Pixabay

Dulu saya pernah nulis: Jangan Jadi Istri Nyebelin! Nah, sekarang gantian suami ya. 😁 

Ini lho mi, suami, beberapa sikapmu ini bisa bikin istrimu jadi gemes-gemes nyebelin. Grgrgrgrgr.... 😤😤😤


1. Nggak balesin pesan istri 


Ini nyebelin biyut tahu nggak sih, Pak. Mana si istri khawatirnya kebangetan, udah sampai dengan selamat belum, eh pesan balesan yang ditunggu-tunggu nggak nongol juga. Oke, istri mungkin paham kalau suaminya super sibuk sekali. Tapi ya, plis deh, Pak, cuman sekadar balesin, "Alhamdulillah udah..." gitu aja repot ya? 😩

Pff, mungkin istri perlu mengubah isi pesan. Nggak perlu nanyain orangnya, cukup tanyakan pada barang-barang yang dibawa pas tadi pergi. Semisal nanyain motornya, mantolnya, tasnya, sepatunya dsb. "Gimana, Mas? Mantolnya yang tadi dipakai udah nyampe sono dengan selamat kan? Nggak sobek kan? Aku nanyain mantolnya lho, nggak orangnya. 😜" Solusi yang jitu untuk obat cueknya. Hohoho.

2. Di-colekin berkali-kali, di-tagin hingga bersungai-sungai, hanya berakhir nyesek: DIABAIKAN! 


Sejujurnya, Pak, kalau istrimu suka nyolekin sampeyan pas nemu status bagus, dia ini cuman pingin nunjukin, "Ini lho, suami ane. Ane punya suami, Mak, Pak. Hubungan kami baik-baik saja. Kami juga selalu mesra."

Sayangnya, tiap kali nyolekin, boro-boro dikomenin atau sekadar di-like, kadang dibaca saja kagak. 😵😨😂 

Saran saya, kalau dicuekin mulu. Isi status yang dishare langsung ditunjukin ke orangnya. Kalau perlu ditodong buat baca. #istriganas :p 

3. Ketika dimintai pertimbangan istri, jawabmu, "Terserah kamulah..."


Kalau istri sampai minta pertimbangan ke suami itu karena dia masih ragu-ragu harus memilih yang mana.

"Mas, entar mau dimasakin menu apa?" 

"Terserah kamulah..."

"Kok terserah sih?"

"Ya, udah. Aku mau kare ayam."

"Hadeh, jangan kare, ah. Aku kan nggak suka yang pakai santan gitu. Tempe goreng sama sayur bening aja gimana?" 😝😝😝😝 *ini yang balik nyebelin siapa? 😎


4. Nggak peka dengan perasaan istri


Ya, karena mikirnya istrinya itu kayak dia: nggak gampang tersinggungan. 

"Masakanmu nggak enak, Dek. Asin." kata-kata yang begini potensi menyinggung besar lho, Pak. Padahal dia sendiri sudah uplek di dapur penuh perjuangan. Kalau dikritik jujur kek gini, rasanya nyesek banget lah, Pak.

"Terus harus bohong gitu?" Ya, nggak lah, Pak. Seenggaknya kemaslah kritikan itu yang lebih manusiawi. "Emang kritikannya hewani?" Bukan, Pak. Nabati. 😌

Baca juga : Suami Beng-Is

Misalnya ngeritiknya pakai gaya kek gini, "Masakanmu sebenernya enak juga kok, Dek. Asal garamnya dikurangin. Hihi. Tapi karena istriku sudah susah payah masakin, ya tetap aku makan sampai habis. Jangan nyerah ya. InsyaAllah besok istriku bakalan pinter masak yang sesuai selera suaminya." Ini lebih enak diterima ketimbang yang tadi. Ya, walau saya juga sangsi. Genk suami kan umumnya pada hemat kata: satu atau dua kalimat saja cukup! 😂😂

5. Nggak paham dengan keadaan istri


Udah istri rempong ngurusin bocil-bocil, masih ditambah tetek bengek urusan rumah tangga lainnya. Eh, sampeyan, boro-boro bantuin, malah kadang masih nambahin kerjaan istri. "Dek, ntar sepatuku dilapin dulu. Dek, motorku juga sekalian dilapin ya." Mukanya sampeyan perlu dilap juga nggak, Pak? 😝😝😝

"Yeila... Itu kan tugasnya dia." Oh, gitu? Termasuk ngelap muka sampeyan ya? 😆😆


Seenggaknya, Pak, meringankan tugas istri itu nggak akan melunturkan kemaskuliananmu. Justru keren lagi jika sampeyan mau bantuin mandiin anak, jemurin baju, nyapu, syukur-syukur juga ngepel sekalian. Eniwae, Pak, sosok family man itu dambaan para wanita. "Oh, ya?" Mukanya sampeyan langsung sumringah semriwing. "Terus, terus?" Nggak jadi, Pak, entar saya disewotin para istri. :p


6. Pas istri mau curhat, suami malah sibuk sendiri


Istri itu curcol mania, Pak. Kalau sampeyan nggak bisa jadi pendengar yang baik, potensi dia bakalan curcol ke ladang yang nggak tepat. Apalagi kalau dia sampai curhat ke pesbuk, bisa ruwet ini, Pak.

So, Pak, jadilah pendengar yang baik dan partner sharing paling asyik untuk istrimu. Dia hanya butuh didengerin aja kok, Pak. Ngurusin bocil-bocil dengan segala tetek bengek urusan rumah tangga itu bukan hal yang mudah. Capeknya kebangetan, Pak. Suaminya mbak Wulan Darmanto saja juga sudah membuktikannya ketika seminggu dia nyobain jadi Bapak Rumah Tangga.

Okelah, Pak. Segini aja dari saya. Nggak usah banyak-banyak ngorek yang nyebelin dari suami. Entar saya bisa dipetisi genk suami. :p 

Saya hanya nyebut yang nyebelin dari sikap suami lho ya. Kalau ada suami yang suka ngomong kasar, bahkan sampai bertindak melakukan kekerasan ke istri, hedehhhh...dia mah udah nggak masuk dalam kategori suami nyebelin. Mereka tingkatnya udah horor, Mak, Pak. Suami kek gitu lebih baik "dikebumikan" saja. 😝😝😝

*tulisan diatas sebetulnya adalah status FB, karena target pembacanya adalah para suami makanya saya lempar ke sana dulu. Saya posting ke blog, biar kalau mau baca bisa lebih mudah nyarinya. :D

Jumat, 23 September 2016




"Bu, apa aku ini bodoh?" tanya Syafa (hanya samaran), 6 tahun, pada ibunya hari itu.

Ibunya terhenyak. "Kenapa tanya begitu? Siapa yang bilang kamu bodoh?" tanya ibunya sedikit marah.

"Bu Dhe itu yang bilang kalau aku ini bodoh," jelasnya polos.

Syafa ini adalah anak tetangga saya. Dari cerita ibunya, dia memang belum dinaikkan ke kelas satu, karena dari sisi kemandirian dan juga umur, menurut gurunya, memang masih kurang. Ibunya pun juga memilih agar anaknya ini belajar di TK, setahun lagi, sebelum nantinya naik ke bangku sekolah dasar.

Hanya karena Syafa masih tinggal kelas di TK, ada tetangganya yang nyeplos menyebutnya bodoh. Mungkin baginya, anak sekecil Syafa hanyalah anak polos yang tidak terlalu menganggap serius dengan sebutan bodohnya. Padahal sebutan bodoh bisa saja mempengaruhi psikisnya. Beruntunglah, ibunya bisa meyakinkannya kalau dia bukan anak bodoh. 

Syafa juga salah satu murid TPA saya. Dia ini memang tipikal anak yang harus diyakinkan dulu sebelum belajar.

"Bu guru, aku nggak bisa baca iqro'," lapornya sebelum belajar membaca iqro'. 

"Bisa. Mbak Syafa kan anak pintar. Kalau mbak Syafa berusaha, insyaAllah bisa kok. Ayo, belajar sama Bu Guru," terang saya berusaha meyakinkan. Dia akhirnya mau, tapi di tengah jalan dia lagi-lagi akan mengatakan kalau dia tidak bisa.

Saya pun Pernah Disebut Bodoh


Kisah Syafa ini mengingatkan saya pada masa kecil dulu. Ya, saya adalah korban dari orang-orang dewasa yang enteng melabeli saya dengan sebutan si bodoh. 

Saudara dan sepupu-sepupu saya rata-rata termasuk anak paling pintar di kelas (baca: selalu dapat rangking 1 di kelas, atau minimal dapat 3 besar). Sementara saya? Saya hampir tak pernah dapat rangking di kelas. Bahkan nilai saya pernah sejajar dengan murid yang sering berada di urutan akhir. 

Saya bisa dapat rangking 3 di kelas, kata mereka, hanya saat guru kelasnya adalah tetangga saya sendiri. Itu pun di depan mata saya, dia bilang kalau kemampuan saya menguasai pelajaran sangat kurang sekali. Bahkan disamakan dengan murid lain yang nilainya paling rendah. Lah, kenapa juga saya dikasih rangking 3? Batin saya. Karena begitu membekas, sampai sekarang saya masih mengingat detail tempat dimana si bapak guru ini menyebut saya begitu lho. Hihihi.

Padahal, sebetulnya saya juga pernah dapat rangking 3 saat guru kelasnya adalah bu guru S. Beliau bukan tetangga apalagi kerabat dan saya pun tidak terlalu dekat dengannya. Ini artinya?

Tapi saking banyaknya orang yang menyebut saya bodoh, membandingkan dengan saudara dan sepupu yang selalu rangking 1, membuat saya semakin tidak percaya diri dengan kemampuan saya. Saya pun jadi merumuskan sendiri sehingga melekat kuat dalam benak saya: SAYA BODOH, SAYA TIDAK AKAN BISA. 


Sampai satu ketika saat duduk di bangku kelas 6, guru yang selalu memarahi saya dan selalu menyebut saya sok pintar--karena saya seringkali punya cara sendiri ketika diajar olehnya--tiba-tiba mendekati saya di koridor kelas. "Kalau kamu pingin pintar, dapat rangking di kelas, berusahalah, belajar yang rajin."


Kalimat itu perlahan menyadarkan saya bahwa siapapun kita, jika berusaha, insyaAllah bisa. Mungkin kalimat itu hanya sepele, tapi efeknya sungguh luar biasa bagi saya, saya yang kala itu hampir-hampir tidak percaya diri dengan kemampuan saya. Setidaknya kalimat pelecut itu mampu memotivasi untuk giat belajar lagi.

Alhamdulillah berkat kerja keras, saya bisa mendapat NEM (Nilai Ebtanas Murni) terbaik nomor dua di sekolah. Hasil yang membanggakan ini ternyata mengejutkan bagi orangtua siswa yang anaknya sering dapat rangking di kelas. 

"Masa' sih Is yang bodone ngetheki (dalam bahasa Jawa, kata-kata ini termasuk kasar yang artinya bodoh sekali) bisa dapat NEM tinggi? Pasti dia nyogok itu," tuduh seorang ibu.

Nyeseknya, kalimat itu diucapkan di depan saya langsung. Saat itu saya duduk di dipan emperan rumah teman saya yang dapat NEM tertinggi. Saya harus mengulum senyum lebar-lebar kepada ibu tersebut, sembari menahan air mata agar tidak menyembul keluar. Dalam batin saya kala itu, apa dipikir saya nggak paham dengan kalimat yang diungkapkannya. Saking membekasnya, saya lagi-lagi masih mengingat detail kejadiannya sampai sekarang.

Sepulang ke rumah, tangis saya tumpah ruah. Sesegukan sendirian karena kedua orangtua sibuk bekerja di luar rumah. Siangnya saya ketemu saudara sepupu, saya curhat kepadanya. 

"Nggak usah dimasukin ke hati. Yang penting kan kamu emang nggak nyogok. Biar mereka ngatain apa, nggak usah dipikirin," ujarnya menasihati. Saya langsung lega. Nggak ada gunanya juga mikirin hal yang nggak penting bukan?

Beruntunglah saat itu label 'bodoh' yang disematkan pada saya hanya berpengaruh pada kemampuan akademik. Saya hanya tidak percaya diri untuk masalah penguasaan ilmu di sekolah saja, selebihnya saya bukanlah seorang anak yang suka menyendiri, tidak percaya diri untuk bergaul bersama teman-temannya. 

Saya sendiri tipikal orang yang hanya sakit hati pada saat itu, setelahnya akan menjadi hal yang amat nggak penting jika saya sampai harus menyimpan luka hati terus-terusan. Kalau toh saya bisa mengingat detail kejadian, itu bukan karena masih menyimpan luka. Sejauh ini saya memang bisa mengingat detail kejadian pada satu kejadian yang spesial, entah suka ataupun duka.


Inilah mengapa, Ayah Bunda, janganlah sekali-kali menyebut anak kita termasuk anak orang lain, dengan sebutan bodoh! Jangan pikir mereka ini masih polos sehingga tidak mengerti atau mungkin tidak sampai berpengaruh buruk pada psikisnya.

Seperti kata Albert Einstein bahwa setiap anak itu genius. Namun jika kita menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat sebatang pohon, maka dia akan berpikir dirinya bodoh di sepanjang hidupnya. Semoga bermanfaat. :)

Jumat, 16 September 2016




Ya, karena ibu tetaplah ibu. Nggak peduli apakah dia ibu ASI atau ibu sufor, ibu yang lahiran normal atau sesar, ibu rumahan atau ibu pekerja, ibu tanpa ART atau yang punya ART, bahkan ibu yang suaminya ada di rumah atau yang lagi LDR-an sama pak suami.


Kayaknya kalau kita ikutan perang opini antara dua tipe ibu yang bertolak belakang ini nggak akan ada selesainya. Iyup, yang ada bisa jambak-jambakan jilbab entar. Oh, enggak ya? Kan 'perang'-nya di medsos. Paling hanya balik nyinyir atau blokir. Hihihi. 😜

Padahal nih ya, kalau kita pikir-pikir, sebetulnya ibu macam apapun tetaplah sama kok. Nggak percaya? Coba cek doi pas anaknya lagi sakit. Doilah yang rela begadang semalaman ngurusin si bocil yang rewel karena sakit. Ibu manapun pasti akan begini.

Nggak peduli mata merah bin pedes karena melek semalaman atau tubuh pegal-pegal karena gendongin si bocil. Bahkan, ada juga yang nekat motoran, gendong si bayi malam-malam ke dokter karena demam mendadak naik hingga 40 derajat celcius. Horornya lagi, di belakang punggungnya juga nemplok si kakak kecil dalam balutan selendang yang diikat kuat karena si kakak juga ikutan sakit. Ini beneran ada lho, saudara-saudara (Nggak usah lirik saya, bukan saya kok :D).

Andai seorang ibu diuji dengan musibah kebakaran, gempa dsb, maka secara spontanitas dia akan menyelamatkan anaknya. Baginya, tak mengapa dia terluka asal anaknya selamat. Serius. Ketika anaknya sakit, harus nginep di rumah sakit, rasanya seperti tercabik-cabik saat anaknya nangis berontak karena ditusuk jarum infus. Andai sakit bisa ditukar, maka seorang ibu pasti akan mentransfer sakit anaknya ke dalam tubuhnya. Biar ia saja yang merasakan sakit, asal jangan anaknya.

Ibu macam apapun akan rela berbagi makanan untuk anaknya, bahkan jika harus dihabiskan oleh anaknya sekalipun. Padahal adanya cuman itu, sedang anaknya sendiri sebetulnya sudah makan. "Ah, aku nggak segitu ngenesnya lah sampe kayak gitu," timpalmu ngebatin.

Okelah, mungkin perlu dicek saat ada orang yang ngasih oleh-oleh sehabis jalan-jalan. Jumlahnya hanya seumplik. Biar kemecer ngiler pingin nyomot sebiji, mau nggak mau harus nelen ludah karena anak-anaknya minta lagi. Rada untung kalau masih ada grogokane (bahasa indonya apa sih? Hahaha), seenggaknya kemecernya sedikit terbayarkan. Wkwkwk.

Kalau makan di warung, foodcourt atau tempat makan lain, doilah yang paling rempong sendiri. Nyuapin si kakak, gantian si adik. Dianya sendiri yang paling belakangan. Itupun kadang jatahnya masih direcokin si bocils yang masih ingin makan lagi. Agak repot kalau makannya rombongan sama keluarga lain. Baru nyuap sesendok, orang-orang sudah pada siap-siap angkat kaki. Hahaha. Ya, udah deh. Bungkusin. Makan di rumah saja (padahal entar di rumah, pasti diserbu sama si bocils :p).

Seorang ibu sudah pasti akan mendahulukan anaknya. Apa-apa yang dipikirkan ya untuk kebutuhan anaknya. Coba cek kalau pas ke toko baju, pasti yang pertama kali dicari ya baju untuk anaknya. Nyari sendal dan sepatu, yang nomor wakhid ya buat anaknya. Ke toko asesoris, lagi-lagi ya buat anaknya. Kalau kita coba kulik-kulik nih, mengapa online shop yang jualan baju anak selalu ramai, meski nggak lebaran? Ya, itulah ibu. Betapapun dia kepincut pingin beli baju, pasti dia lebih mengutamakan anaknya.

Inilah seorang ibu. Ibu manapun pasti akan begini. Saya ngomongin ibu betulan lho. Bukan ibu abal-abal yang buang anaknya sembarangan. Dia mah nggak masuk klasifikasi seorang ibu.

Nggak usah saling mencerca. Kita baik sangka saja. Boleh jadi mereka yang memberikan sufor karena kurang teredukASI, keluarga tidak mendukung, bingung puting lalu menolak ASI (efek dari RS yang tidak pro ASI karena bayinya sudah keduluan diberi sufor), atau memang kondisi tubuh ibunya tidak fit (karena ada teman yang mendadak lemas setelah nyusuin karena dia lemah jantung). Boleh jadi mereka yang terpaksa lahiran sesar karena jika tidak justru akan membahayakan bagi ibu dan bayinya. Kalau toh disebut bukan wanita seutuhnya, ah, mungkin dia nggak tahu, bahwa merekapun juga merasakan kontraksi yang aduhai rasanya tiap 5 menit sekali. Kan terpaksa lahiran sesar, bukan pingin disesar. 😄 Boleh jadi mereka yang terpaksa bekerja karena keadaan ekonomi keluarga masih sangat kurang jika hanya mengandalkan suami.


Lalu siapa yang paling baik? Ah, biar Allah yang menilai sajalah. Bukan hak kita menilai seseorang. Yang jelas, seorang ibu yang baik akan memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya semampunya, bukan semaunya. Pendidikan terbaik, pengasuhan terbaik, waktu terbaik, asupan terbaik dsb.

Ayuk, Mak, kita salaman saja. Damai itu indah, hati juga tenang, pikiran jadi longgar. Kalau saling nyinyir, entar cepat tua lho. Pasti nggak mau kan dituduh jadi embaknya suami atau bahkan emaknya suami? 😱 Onayyy onayyy! 😂😜


Sabtu, 10 September 2016



Inilah salah satu kebiasaan katrok ala saya yang betul-betul nunjukin kalau saya ini wong ndeso asli. Hihihi. Iyup, rajin nyelengin di toples atau bekas wadah makanan, untuk beli barang yang harganya agak mahal termasuk untuk berkurban, adalah kebiasaan saya dari jaman masih jomblo hingga menikah. Bedanya, sekarang lebih disiplin dan terencana kali ya. Kalau dulu lebih sering seenaknya, tujuan nggak jelas dan tanpa perencanaan yang matang.

Buat saya, nyelengin di wadah apapun nggak masalah. Karena saya nyelengin untuk beberapa pos, makanya biar ngirit saya lebih milih pake wadah bekas saja. Kadang karena pos tabungan ada banyak (untuk tabungan pendidikan anak, beli barang X, kurban, dana perjuangan dsb), sampai saya kehabisan wadah untuk nyelengin recehan. Sampai gayung yang pecah pun nekat dipakai. Gayungnya di plester lalu atasnya ditutup dengan lakban. Taraa...jadilah celengan ala-ala. Hahaha. Dasar emak ngirit. :D

Baca juga : Smartphone, Mengubah Saya dari Emak Kucel jadi Emak "Ajaib"

Ya, karena yang paling penting kita bisa disiplin nyelengin kan? Apalah guna beli celengan segede kambing kalau bawaannya pingin mukul pake palu? Kadang, kalau masih sayang, celengannya dilubangi kecil di bawahnya. Sejimpit demi sejimpit diambil. Lama-lama? Ya, nggak bakalan nambah-nambah. Orang diambil mulu. :p

Oke, kembali pada "Berkurban dari Toples". Saya sudah mempraktikkan ini sejak tahun 2012, ketika saya dan suami memutuskan resign dan memilih usaha kecil-kecilan di rumah. Karena pendapatan kami harian, maka ini semakin memudahkan untuk merencanakan berkurban. Dengan penghasilan kami yang fluktuatif, kadang naik kadang turun, disiplin nyelengin sedikit demi sedikit ternyata sangat membantu sekali bagi kami. Sehingga saat Hari Raya Qurban tiba, kami tidak perlu panik karena biaya kurban sudah dipersiapkan dari nyelengin di toples.

Meski hanya nyelengin di toples, tapi praktiknya harus saya rencanakan matang-matang. Jadi tidak asal-asalan kalau ada recehan sisa lalu dicelengin di toples. Inilah beberapa tips dari saya saat nyelengin di toples untuk beli hewan kurban.

1. Tentukan tempo menabung.

Saya biasa memilih tempo waktu yang tidak terlalu lama untuk menabung. Ini untuk memperkecil godaan dari segala bentuk ketidakdisiplinan. Apalagi untuk seorang emak erte yang mengurus bocil-bocil macam saya, agak sulit untuk disiplin menabung, menyisihkan uang di celengan tiap hari. Maka, saya biasanya memilih tempo waktu 3-6 bulan tergantung berapa besar biayanya dan kelonggaran uang untuk ditabung.

Seperti saat kurban di tahun ini, saya kemarin baru mulai merencanakan menabung mulai tanggal 1 Juni 2016 karena sebelumnya sudah ada beberapa pos tabungan yang kudu diselesaikan dulu. Jika hari Raya Idul Adha jatuh pada hari Senin, tanggal 12 September 2016, ini artinya saya punya waktu 103 hari untuk menabung biaya kurban.

2. Tentukan kira-kira berapa besar biaya untuk membeli hewan kurban.

Kalau di Solo Raya--karena mertua saya jualan hewan qurban--biaya untuk membeli kambing yang layak qurban sekitar 1,6 juta (sudah termasuk biaya transport dan pemotongan). Ini artinya paling tidak saya harus bisa nyelengin tiap hari sebesar Rp. 15 ribu. Saya punya waktu selama 103 hari untuk menabung, lalu dikalikan 15.000, maka akan kita dapatkan Rp. 1.545.000. Masih kurang sedikit, bisa kita tambah dari penghasilan kita. Setidaknya nggak terlalu berat kalau hanya nombokin sedikit kan?

Itu cara saya ketika terpaksa ambil tempo agak mepet karena ada kebutuhan lain yang lebih didahulukan. Tahun lalu, saya biasa ambil tempo 6 bulan. Jadi lumayan agak ringan nyicilnya. Kalau kamu bisa disiplin nyelengin dalam waktu setahun ya malah lebih baik. :)

3. Setelah kumpul agak banyak, uangnya bisa ditabung dulu ke bank.

Biasanya setelah terkumpul 300 - 400 ribu, saya akan tabung ke bank agar uangnya tidak amblas keambil untuk kebutuhan lain. Ini setidaknya membantu banget saat kita tergoda untuk mengambil uang celengan. Biar tidak kecampur yang lain, jangan lupa untuk mencatat, berapa uang untuk kurban yang sudah kita titipin ke rekening kita.

4. Jika kepepet boleh diambil, tapi statusnya hanya pinjam dan lekas dikembalikan.

Mungkin ada kebutuhan yang sangat mendesak. Mau tidak mau harus mengambil uang tabungan untuk kurban. Ini boleh-boleh saja, asal statusnya hanya pinjam. Karena pinjam, otomatis harus segera dikembalikan jika sudah ada uang. Jangan lupa untuk mencatat, berapa uang yang kita pinjam. Agar tidak berat membayar, boleh pakai cicilan (tetap harus dicatat lho ya). Dengan begini, uang tabungan akan tetap aman.

Inilah beberapa hal yang saya lakukan untuk menabung biaya pembelian hewan kurban. Yang jelas, ketika kita menabung, ada tiga hal yang harus kita perhatikan. Pertama, tujuannya harus jelas. Kedua, rencanakan dengan matang-matang. Dan ketiga, harus disiplin.

Mungkin cara saya ini bisa dipraktikan tahun depan ya. Atau emak-embak punya cara lain yang lebih wokey lagi agar bisa berkurban? Bisa sharing disini ya. :)

Selasa, 06 September 2016



Beberapa waktu lalu saya posting tentang kabar ibu yang ketiga balitanya tewas terbakar saat ditinggal ibunya shalat dhuhur di masjid. Sesuai tebakan saya, ternyata banyak orang menyalahkan sang ibu. "Bukankah sebaik-baik shalat bagi wanita itu di rumah? Suaminya lagi nggak di rumah, kenapa pula nekat keluar rumah meski shalat jama'ah di masjid? Kenapa rumahnya harus dikunci? Kenapa pula ninggal kompor yang masih nyala?" Dan suara-suara senada yang memojokkan si ibu. (Baca : Karena Anak Kita, Titipan dari-Nya)

Ah, sudah. Cukup. Andaikan kita menjadi si ibu itu, yang sudah kehilangan ketiga balitanya, bagaimana rasanya ketika orang yang melayat justru terus menghakiminya? Iya, mungkin ia teledor. Iya, mungkin ia lengah. Tapi manusia memang tempat khilaf dan lupa. Tidak ada ibu yang sengaja menyakiti anaknya. Kalau toh ada, jangan sebut mereka ibu.

Bahkan ketika di media sosial ada penggalangan dana untuk ibu ini, banyak facebooker yang menyalahkan sang ibu. Ada pula yang tega menyebutnya syiah. Ah, manusia. Betapa kita sibuk mencari kesalahan orang lain sedang kita merasa sudah paling baik sendiri. Na'udzubillah min dzalik. Semoga kita bukan orang seperti ini.

Baca juga : Merasa Lebih Suci

Salah satu teman facebook saya juga membeberkan kisahnya ketika putri kecilnya meninggal karena tersedak. Orang-orang yang melayat sibuk bertanya ini itu, mengapa bisa terjadi. Mereka pun enteng saja berkomentar, "Kenapa tidak ditepuk punggungnya?" Karena sebelumnya si kecil diajak piknik ke pantai, ada juga yang berkomentar, "Kenapa juga diajak jalan-jalan ke pantai? Jadinya masuk angin kan?"

Mereka seakan lupa dengan takdir Allah. Tidak ada yang tahu kapan kematian akan menjemput. Andai kita tahu, tentu kita akan tetap berada di rumah, menjaga anak-anak kita. Tapi kita hanyalah Makhluk-Nya yang tidak akan pernah tahu yang terjadi untuk nanti, esok, lusa, atau mendatang.

Hanyasanya, terkadang manusia sibuk mencari penyebab yang tanpa sadar seperti menyalahkan ibunya karena dinilai abai mengurus buah hatinya. Kenapa kita tidak menjadi pribadi bijaksana? Memilih menjadi pribadi seperti ini tentu jauh lebih menentramkan ketimbang kita sibuk mencampuri urusan orang lain.

Lalu bagaimana menjadi pribadi yang bijaksana?

Pertama, berusaha memahami keadaan. 

Ada teman berkisah, di malam saat buah hatinya meninggal, seorang kerabat jauh yang kesasar, menelpon menanyakan dimana rumahnya. Padahal sang ibu baru saja menata hatinya selepas sejam yang lalu putri kecilnya meninggal dunia. Andai ia paham keadaan, tentu ia akan menelpon saudara atau kerabat lain yang tahu rumahnya, bukan? Kita terlihat peduli, dengan datang melayat malam itu juga, tapi kita mengabaikan bagaimana keadaan mereka yang tengah berduka.

Kedua, mengertilah dengan perasaannya.

Memang benar, mungkin balitanya meninggal karena keteledoran sang ibu. Tapi menghakiminya ketika ia sendiri baru dirundung duka, tentu kurang bijaksana. Percayalah, sang ibu sudah pasti akan menyesal dengan keteledorannya. Saya yakin, ia akan mengambil hikmah di balik musibah ini.

Alangkah bijaksananya jika kita menghibur, menguatkannya. Semoga ia bisa sabar dengan musibah ini.

Ketiga, berprasangka baik.

Seperti dialami ibu yang ketiga balitanya tewas karena terbakar usai ditinggal shalat dhuhur ke masjid. Betul memang, sebaik-baik masjid bagi seorang wanita itu di rumah. Tapi shalat berjama'ah di masjid bagi wanita juga tidak dilarang. Boleh jadi si ibu punya alasan lain, mengapa ia lebih memilih shalat berjama'ah di masjid. Mungkin anaknya memang terbiasa tidur lama saat siang hari, dan si ibu biasa meninggalkan mereka shalat dhuhur di masjid. Mungkin juga karena sekalian mau ada urusan lain. Atau memang suaminya sendiri mengijinkan istrinya shalat di masjid karena di rumah hanya shalat sendirian.

Kita tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi, yang kita tahu hanya sebatas berita dari media. Boleh jadi ada hal yang luput oleh media, atau bisa jadi juga isinya ada yang tidak sesuai dengan kenyataan. Wallahu'alam. Alangkah bijaknya, jika kita berprasangka baik kepada sang ibu tersebut. Allah berfirman yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain..." (QS. Al-Hujurat 12)

Keempat, lebih baik diam, tidak ikut berkomentar lebih jauh jika belum tahu faktanya.

Beberapa waktu lalu, ada teman yang membagikan berita penculikan dari salah seorang pengguna facebook. Karena saya tak akan asal membagikan tanpa cari tahu lebih lanjut, saya kunjungi kronologinya. Saya baca komentar yang masuk. Ada seorang ibu yang langsung menyuruh untuk segera lapor ke polisi ketimbang curhat di facebook. Dia menyampaikannya dengan kalimat penegasan dan berulang. Padahal di komentar awal, si ibu muda ini sudah menjelaskan bahwa dia sudah melapor ke pihak polisi.

Betul memang, statusnya dalam dua hari terakhir hanya berisi berita penculikan anaknya. Kalau disebut curhat juga tidak keliru. Tapi, andai kita berada di posisinya yang kehilangan putri kecilnya karena diculik orang, mungkin usaha apapun akan kita lakukan termasuk terus mengunggah foto si kecil dan penculiknya--yang ternyata masih kerabat. Ya, kali saja ada orang yang tahu.

Tapi, umumnya manusia ya seperti ini. Belum tahu faktanya seperti apa, kita sudah sibuk mengomentari begini dan begitu, menyebut ini dan itu. Ah, bukankah diam di saat seperti ini adalah lebih baik?

Kelima, kroscek boleh, tapi tahu tempat dan kapan waktu yang tepat.

Tentu tidak etis ketika kita berusaha mencari tahu lebih jauh saat yang ditanyai adalah ibunya sendiri yang baru menata hati untuk ikhlas dengan kehilangan balitanya. Mungkin kita ingin kroscek lebih jauh kebenaran ceritanya. Namanya juga naluri manusia yang kepingin tahu.

Jika begini, ada baiknya kita kroscek kepada saudara atau kerabatnya yang lain yang bisa dipercaya tanpa menyinggung perasaan atau menyudutkan keluarganya. Pun begitu, sekali lagi, memilih diam tentu jauh lebih baik.


Keenam, mendoakan dan menyemangatinya agar tetap bersabar.


Ya, ketimbang kita kepo tanya ini, tanya itu, kenapa begini, kenapa begitu, lebih baik kita mendoakan semoga ia mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, dan kelak bisa dipertemukan kembali dengan Ayah Ibunya. Yang anaknya diculik juga semoga lekas ketemu dan kumpul kembali dengan keluarganya. Doa yang tulus, apapun itu. Agar mereka kuat, kita terus memotivasi, menyemangatinya. Sehingga mereka yang diuji tetap bersabar dengan musibah yang menimpa mereka.

Bukankah lebih menentramkan jika kita menjadi pribadi yang bijaksana ketika mereka tengah diuji musibah? Ketimbang sibuk mencampuri urusan orang lain yang terkadang tanpa kita sadari justru menyinggung perasaan mereka, kenapa tidak kita memilih bersikap bijaksana? Ya, menjadi pribadi yang bijaksana. Semoga kita termasuk orang seperti ini.
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!