Tampilkan postingan dengan label Giveaway. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Giveaway. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Agustus 2016


Anak pertama saya saat usia 7 bulan. Kini usianya sudah 3 tahun 7 bulan.

Andai saya tidak siaran bersama narasumber ahli gizi di radio tempat saya bekerja dulu, bisa jadi saya akan tumbuh menjadi ibu yang akan memberikan susu formula (sufor) bagi kedua buah hati saya. Ya, jauh sebelum saya memandu acara "Saatnya Wanita Berbicara" yang membahas tentang gizi bersama seorang nutrisionis, sudah lekat dalam pikiran saya, bahwa sufor-lah nutrisi yang baik untuk putra-putri kita.

Itulah pemikiran salah kaprah semasa masih lajang dulu. Bahkan saya sudah membayangkan, susu formula merk apa yang akan saya berikan untuk anak saya kelak. Sama sekali tidak terbayangkan akan memberikan ASI, apalagi sampai menyusuinya hingga usia dua tahun. Pandangan saya ini bukan tanpa sebab. Di lingkungan tempat tinggal saya, masih banyak ibu yang memberikan sufor untuk bayinya. Anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang terlihat super aktif dan pintar, dengan badannya yang gembul dan sintal. Sementara anak yang diberikan ASI terlihat sedikit pasif dan berat badannya tidak gemuk dan segar. Inilah mengapa karena keawaman saya, dulu saya berpikir bahwa susu formula dengan merk bagus itu lebih baik dari ASI.

Pelan-pelan saya mulai teredukasi tentang apa itu ASI dan segala kebaikannya. Meski tidak melulu membahas tentang ASI, siaran selama satu minggu sekali bersama nutrisionis pendukung ASI, sukses membuat saya akhirnya menyadari bahwa ASI adalah nutrisi terbaik bagi bayi kita. Susu formula sebagus dan semahal apapun tidak ada yang bisa menandingi kebaikan ASI. Titik tidak pakai koma.

Dari siaran bersama nutrisionis itulah saya tahu, bahwa menyusui, memberikan ASI harus sudah dipersiapkan sejak kita masih lajang, baik secara pengetahuan maupun kondisi tubuh kita yang kelak akan menghasilkan ASI. Maka dari itulah, ada 3 hal yang harus kita persiapkan agar kelak bisa memberikan ASI melimpah dan berkualitas kepada bayi kita.

1. Mengubah gaya hidup


Ada satu pertanyaan saya waktu itu, ketika on air, "Agar kelak kita bisa menghasilkan ASI melimpah dan berkualitas, apa itu harus kita persiapkan sejak masih lajang?" Dia menjawab, "Oh, jelas iya. Terutama ubah gaya hidup menjadi yang sehat."

Betul sekali. Bahwa mengubah gaya hidup dari yang semaunya menjadi yang sehat itu bukan perkara yang mudah. Sulit andaikan kita berubah 'ujug-ujug', langsung saat itu juga. Perlu proses untuk mengubahnya menjadi terbiasa.

Sedari kecil, saya jarang minum air putih, minumnya suka yang manis-manis. Makan sayur pun lebih sering disingkirin. Suka jajan sembarangan. Hobi makan junkfood. Dan seringkali saya tidak memperhatikan asupan yang dimakan apakah sudah mengandung gizi seimbang atau belum.

Karena kesadaran bahwa kelak tubuh saya akan menghasilkan ASI untuk buah hati, maka saya harus mengubah gaya hidup yang tidak sehat seawal mungkin. Saya mulai suka minum air putih. Yang tadinya tidak suka sayur, pelan namun pasti saya mulai menyukai sayuran bahkan digado tanpa bumbu apapun saya mau (sayurannya tetap direbus atau kukus). Kebiasaan ngeremuk mie mentah juga mulai saya tinggalkan. Kalau kepingin makan mie rebus, saya akan tambah dengan sebutir telur atau tahu dan juga sayuran. Sementara untuk buah, saya memang sudah suka sejak dulu.

Dengan mengubah kebiasaan ini, setidaknya saya tidak merasa terbebani ketika saya benar-benar menjadi ibu karena saya sudah terbiasa dengan gaya hidup sehat. Saat lahiran anak pertama, tiga setengah tahun lalu, alhamdulillah saya bisa memberinya ASI hingga usianya dua tahun. Bahkan sekarang, dilanjut adiknya yang kini usianya menginjak sebelas bulan.


Jujur, saya miris ketika tahu ada ibu yang katanya ingin memberikan ASI bagi bayinya, sementara dia tidak mau mengubah gaya hidupnya. Ogah makan sayur. Tidak mau minum air putih. Sering minum teh kemasan yang mengandung pengawet dan pemanis buatan. Alhasil, dia mengeluh karena ASI-nya kurang. Begitu disuruh mengubah, dia menjawab sulit. Akhirnya, suforlah yang jadi andalan.

2. Perluas wawasan tentang pemberian ASI dan segala kebaikannya


Ini penting sekali. Mungkin ketika masih single, ilmu tentang ASI hanya sebatas pengetahuan secara umum. Yang penting, saya saat itu sudah tahu bahwa ASI adalah asupan terbaik bagi bayi. Tidak ada nutrisi terbaik untuk bayi selain ASI.

Wawasan tentang ASI terus saya perluas ketika saya sudah menikah, dan makin digali lagi saat saya sudah mengandung. Apalagi agar ASI bisa keluar sesaat setelah melahirkan atau bahkan sebelum melahirkan, saya harus melakukan perawatan payudara selama hamil. Dikutip dari AyahBunda, salah satu cara perawatannya adalah dengan pijat payudara atau breast massage yang berguna untuk relaksasi dan membantu refleks pengeluaran ASI. Pijat payudara sebaiknya dilakukan sedini mungkin, yakni saat usia kehamilan 5 atau 6 bulan. Namun, hentikan pijat setelah usia kehamilan masuk trimester ketiga, karena bisa menimbulkan kontraksi rahim.

Dengan pengetahuan ini--hasil berburu ilmu dari internet dengan sumber yang jelas--setidaknya saya sudah punya bekal yang banyak. Jadi ketika si bayi lahir, saya sudah siap dengan apa yang akan saya lakukan nanti.

Dua kali saya melahirkan, ASI tidak langsung bisa keluar. Dua klinik bersalin tempat saya melahirkan pun tampaknya juga tidak pro ASI. Bayi tidak langsung didekatkan pada saya untuk dilakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Saya sendiri saat itu sudah lemas. Bekal ilmu saya soal IMD ini masih amatlah dangkal andaikan saya harus melakukan sendiri, sementara dari bidan atau perawatnya tidak membantu.

Sungguh perjuangan berat bagi seorang ibu yang hendak memberikan ASI secara ekslusif, sementara rumah sakit atau klinik bersalinnya tidak mendukung. Maka penting sekali bagi ibu yang hendak melahirkan untuk survei rumah sakit atau klinik bersalin mana yang pro ASI.

Alhamdulillah, meski bayi saya sempat terpisah dengan saya selama satu jam, perawatnya belum memberikan susu formula. Pada akhirnya saya melakukan IMD semampunya dibantu oleh suami dan Bu Dhe yang saat itu ikut jagain.

Tapi ASI masih belum keluar juga. Saya berusaha untuk tenang dan yakin jika ASI akan cepat keluar dengan membiarkan si bayi terus menghisap puting, di samping juga memberikan rasa nyaman. Seperti yang pernah saya baca, bahwa ketenangan dan keyakinan ibu menentukan kelancaran ASI.

Dr Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC, FABM, seperti dikutip detikHealth, mengatakan bayi bisa bertahan 24-48 jam, karena ia sudah dibekali dari kandungan. Dr Tami juga menjelaskan, hampir sekitar 50 persen keberhasilan menyusui bergantung pada pikiran si ibu.

Lebih lanjut dr Tami juga mengungkapkan dari sisi kedokteran ada 2 hormon yang mempengaruhi ASI yaitu hormon prolaktin yang berfungsi memproduksi ASI dan hormon oksitosin yang berfungsi mengalirkan ASI. Hormon oksitosin ini terpengaruh oleh pikiran ibu. Jika ibu sedang sedih, stres, kesal atau mangkel maka hormon oksitosin akan berkurang sehingga mempengaruhi produksi ASI.

Sementara itu, mengutip dari laman okezone, para peneliti juga menemukan bahwa pada hari pertama sampai hari ketiga lambung bayi baru lahir hanya memiliki kapasitas menampung berkisar lima sampai tujuh ml ASI setiap kali minum. Jumlah ini sesuai dengan jumlah kolostrum yang sudah tersedia dalam payudara ibu pada hari-hari awal pascapersalinan. Tetesan-tetesan ASI pertama kali sampai hari kelima atau ketujuh berupa kolostrum, sudah cukup memenuhi kebutuhan bayi.

Dari sinilah saya tetap berkeyakinan, saya akan bisa memberikan ASI ekslusif untuk bayi saya. Alhamdulillah setelah kurang lebih lima jam pasca persalinan, ASI sudah keluar meski belum lancar benar.

Maka, penting sekali bagi calon ibu untuk memperluas wawasannya tentang ASI agar selepas bayinya lahir nanti, ibu tidak gagap saat menghadapi ASI-nya belum keluar pasca persalinan. Apalagi jika rumah sakit atau klinik bersalinnya tidak pro ASI. Andai saya tidak membekali diri dengan ilmu, bisa jadi saya akan patah arang, dan mengira bahwa saya tidak bisa menyusui bayi saya karena ASI belum keluar.

3. Menguatkan mental


Ya, bukan hal mudah bagi seorang ibu yang ingin memberikan ASI ekslusif untuk bayinya. Tanpa bekal mental yang kuat, ibu bisa saja menyerah dan pada akhirnya memilih memberikan susu formula kepada bayinya.

Ketika ASI belum keluar, entah untuk ke berapa kalinya, perawat bolak-balik nanya, "Gimana? Udah keluar belum? Apa dibikinin sufor saja?" Saya tetap menjawab santai namun tegas. "Nggak usah, mbak." Walau hanya sebatas bertanya, tapi bisa saja membuat kita jadi terpengaruh.

Pas lahiran anak pertama, saya bahkan diberi susu formula kemasan 150 gr dalam paketan perlengkapan bayi, sebagai salah satu fasilitas dari klinik bersalin tersebut. Memang, bidannya tidak memaksa atau menganjurkan untuk diberi susu formula. Tapi 'dititipi' se-dus susu formula bisa saja membuat ibu jadi tergoda karena ASI belum keluar.

Ketika anak menginjak usia tiga bulan, mertua saya bahkan menasihati saya, "Sudah tiga bulan, dikasih makan saja. Nanti kalau nggak dikasih makan, kamu bakalan disusuin terus." Saya berusaha menjawab santun lengkap dengan senyum, "Belum dulu, bu. Makannya besok kalau sudah usia 6 bulan. Nggak apa-apa saya disusuin terus."

Sepupu saya ada juga yang menyarankan begini ke saya, "Jangan cuma ASI. Dikasih sufor juga. Biar nanti kalau ditinggal nggak repot. Lagian kalau dia cuman ASI, besok dia bakalan nggak doyan susu."

Bahkan ibu saya juga pernah menyarankan yang sama saat anak kedua saya terlihat tidak semegrak (sebetulnya anak kedua saya ini aktif, tapi dia susah tersenyum selain dengan ayah, bunda dan kakaknya, kalau diajak orang lain seperti ketakutan atau kalau mau dia lebih terlihat kalem dan terkesan kurang lincah). "Ditambahin sufor biar lebih lincah dan badannya sintal. Lagian, anak orang lain dikasih sufor juga nggak masalah. Mereka baik-baik saja." Karena dengan ibu sendiri, saya lebih mudah memberikan penjelasan tanpa ada rasa sungkan.

Anak kedua saya yang dinilai susah tersenyum saat usianya 6 bulan. Kini usianya sudah 11 bulan.

Itulah beberapa kalimat yang pernah dilayangkan kepada saya. Tanpa mental yang kuat, saya bisa saja down sehingga mempengaruhi produksi ASI. Alhamdulillah, suami saya selalu menjadi tempat mencurahkan unek-unek. Kita biasa menjadikan kalimat-kalimat mereka ini sebagai candaan agar saya sendiri tidak terlalu memasukkan sampai ke hati.

Inilah mengapa, niat menyusui itu harus tumbuh jauh sebelum menjadi ibu. Karena ada banyak bekal yang harus kita persiapkan agar bisa memberikan nutrisi terbaik sebagai anugerah dari-Nya untuk bayi kita. Ingat bahwa setiap tetesan-tetesannya itu akan dinilai oleh-Nya jika kita ikhlas memperjuangkannya.

Meski Pekan ASI Dunia yang jatuh tanggal 1 - 7 Agustus telah berlalu, tapi semaraknya akan selalu digaungkan oleh para pendukung ASI. Karena sekali ASI tetaplah ASI. Tidak untuk yang lain, tak peduli dengan hambatan maupun rintangan yang menghadang. Happy breastfeeding, Moms!

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway DuniaBiza bertema "ASI dan Segala Cerita Tentangnya".



Sumber :
http://www.ayahbunda.co.id/kehamilan-gizi-kesehatan/5-kiat-lancar-asi-eksklusif-

http://m.detik.com/health/read/2011/09/27/150447/1731510/764/bayi-baru-lahir-bisa-bertahan-48-jam-tanpa-menyusu

http://m.okezone.com/read/2011/08/05/195/488715/asi-belum-lancar-don-t-worry

Rabu, 13 Juli 2016



Saya bukan seorang emak yang suka berfoto selfie. Sejujurnya saya lebih senang memotret orang lain atau pemandangan unik di depan mata ketimbang diri sendiri. Pun begitu, saya akan ikut barisan ketika yang lain ingin mengambil gambar bersama-sama. Saya sendiri lebih senang difoto orang lain ketimbang berselfie, karena lebih terlihat natural. 

Bagi saya pribadi, memotret gambar lewat kamera ponsel itu selalu memiliki kesan tersendiri. Saya biasa mengabadikan sesuatu yang mengandung pelajaran lewat kamera ponsel. Ini bermanfaat sekali untuk pengingat, khususnya bagi saya pribadi. Saya pun bisa menulis artikel di blog atau status di media sosial lewat foto ini.

Dulu ketika kamera HP baru setaraf VGA, saya tetap nekat mengabadikan gambar yang sarat hikmah meski kualitas gambar tak sesempurna kamera ponsel yang sekarang. Tapi disinilah letak syukur itu. Untuk memiliki ponsel berkamera 8 MP, saya harus sabar menabung secara disiplin dan terencana sebesar Rp. 10 ribu per hari selama lebih dari tiga bulan. Rencana awal sebetulnya selama lima bulan, tapi alhamdulillah ada orang baik hati yang memberi sumbangan setengah juta. Jadi tak perlu waktu lebih lama untuk saya bisa membeli HP setelah sebelumnya hilang dicuri orang. Hihihi.

Ya, meski saya bukanlah seorang emak yang pintar mengambil foto dengan angle yang bagus, setidaknya banyak hikmah berharga yang saya dapat dari jepretan kamera ponsel. Berikut 6 pelajaran berharga di balik kamera ponsel.

1. Usaha yang memberdayakan


Ibu-ibu tengah sibuk memotong daun dan akar dari umbi bawang merah.

Tetangga di rumah ibu saya ada yang usaha jual beli bawang merah. Dia tidak menanam sendiri bawang merah, tapi membelinya langsung dari para petani. Lewat foto yang saya ambil usai mengikuti kajian sore tiap hari Selasa itu, tetiba terselip impian saya untuk membuka usaha, usaha yang bisa memberdayakan masyarakat sekitar. Walau sampai sekarang masih dalam angan-angan.

Ya, meski tetangga ibu saya ini hanya menjual bawang merah saat harga bawang naik, tapi setidaknya tetangga sekitar ikut kebagian rezeki. Dari hasil membersihkan umbi bawang dari daun dan akarnya, mereka bisa mendapat uang Rp. 50.000 - Rp. 60.000,- sehari. Setiap sekilo dihargai 500 perak. Dalam sehari mereka sanggup membersihkan bawang merah lebih dari 100 kg.

2. Semangat bekerja di usia senja


Mbah Sati, 85 tahun, masih semangat jualan gethuk dan sawut di pasar.

Namanya Mbah Sati. Usianya sudah menginjak 85 tahun. Di usia setua ini, beliau masih semangat menjemput rezeki. Dengan raganya yang renta, beliau membuat gethuk dan sawut sendirian, lalu menjualnya ke pasar. 
Baginya tetap berjualan gethuk hingga usia senja adalah hiburan. Andai beliau istirahat jualan, mungkin akan enak badannya, tapi sakit pikirannya, begitu katanya. Beliau juga tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Bahkan beliau bertekad, sepanjang raganya sehat, ia akan jualan gethuk sak lawase (selamanya). Semangat mbah Sati ini setidaknya menggelitik saya yang terkadang masih malas-malasan saat menjemput rezeki. 

3. Tetap berangkat ngaji di tengah ujian sakit


Seorang ibu hendak menolong ibu Supari yang sakit stroke tapi tetap semangat mengikuti kajian.

Sudah lama ibu bernama Supari ini diuji sakit stroke. Mungkin sudah lebih dari lima tahun. Tapi ada satu yang membuat saya tercekat saat melihatnya berjalan dari rumahnya menuju ke tempat pengajian. Dengan kaki dan tangan kirinya yang terkena stroke, ia tertatih-tatih sembari menyeret kaki kirinya, berjalan sejauh 400 meter dari rumah. Itulah kali pertama saya melihatnya kembali mengikuti pengajian setelah beberapa tahun sebelumnya vakum lantaran sakit. 

Saya makin dibuat berkaca-kaca, saat hari lain ia hadir lagi di pengajian. Dari tempat duduk saya di dekat pintu masuk, saya melihat ia berjalan tertatih sembari mulut terus komat-kamit berdzikir menyebut asma Allah. Awalnya saya sangsi jika ia berdzikir. Mungkin mulutnya memang terlihat bergerak terus karena sakit strokenya, pikir saya.

Saya kepo. Sengaja saya menggeser tempat duduk, mendekat ke arahnya. Subhanallah, memang ia berdzikir. Bahkan dengan lafalnya yang cadel karena sakit stroke. Allahu Rabbiy, betapa saya selama ini sering menyia-nyiakan nikmat sehat ini untuk hal-hal yang tak berguna, bahkan terkadang masih senang mengundur-ngundur waktu shalat.

4. Kasih sayang induk ayam pada anaknya


Seekor induk ayam tetap peduli pada anak-anaknya dengan mencarikan biji-biji padi untuk dimakan anaknya. Sayang, foto diambil setelahnya karena saya tidak sedang pegang HP.

Saat tengah menyuapi si kecil di depan rumah, saya melihat seekor induk ayam bersama dua ekor anaknya tengah mencari bulir-bulir padi yang jatuh di pinggir jalan. Manik mata saya kontan menyipit. Dua alis saling bertaut.

Rupanya saat induk ayam mematuk biji padi, dia tidak hanya makan untuk dirinya sendiri, tapi juga mencarikan untuk anaknya. Biji padi itu dipatuk di paruhnya, lalu diletakkan di dekat anak-anaknya agar dimakan oleh mereka. Terkadang anak-anaknya malah menjauh, nyari makan sendiri. Jika tidak dimakan anaknya, ia akan memakan biji padi itu. 

Subhanallah, betapa Allah menunjukkan pelajarannya lewat makhluk-makhluk-Nya yang bahkan tidak memiliki akal selayaknya manusia. Seekor induk ayam saja dengan naluri ibunya, ia menjaga anak-anaknya, mencarikan makan bagi mereka. Bahkan ia tetap mengutamakan anak-anaknya meski ia sendiri juga butuh makan. Bagaimana dengan manusia sendiri? 

5. Berkat tongsis, akhirnya bisa foto berempat


Berkat tongsis, kami akhirnya bisa komplit foto berempat. Ya, walau hasilnya tetap saja tidak bisa kompak menghadap kamera.

Bagi kami, bisa berfoto bareng berempat itu luar biasa. Apalagi sebelum kami punya tongsis. Kalau minta difotoin orang, kadang ada rasa pekewuh juga. Rikuh kalau mau begaya. Hihihi. 

Sejak kehadiran tongsis di tengah-tengah kami, akhirnya kami bisa foto berempat. Ya, meskipun untuk mengajak anak-anak foto bersama itu susahnya kebangetan. Yang besar terkadang tidak mau melihat ke arah kamera. Yang kecil, kadang rewel atau sering sibuk tengok sana tengok sini. Sekalinya bisa sedikit kompak (yang kecil tetap saja susah mengarah ke kamera), eh malah ibu mertua nongol di belakang. Hahaha.

Pun begitu, kami tetap bersyukur. Setidaknya kami punya kenangan foto bersama, ketika mereka masih imut-imutnya. Lucu juga jika kami yang sering bersama ini, tidak pernah sekalipun foto bersama. Sekalinya bisa foto barengan, eh ternyata sudah tidak imut lagi. Hihihi.

Dengan adanya foto bersama ini membuat saya semakin mensyukuri arti kebersamaan. Ya, bagaimanapun juga kebersamaan ini tidak selamanya, suatu saat nanti, entah kapan, kita semua akan menemui kematian.

6. Mengabadikan tingkah polah hingga tumbuh kembang si kecil


tingkah polah si kecil

Salah satu manfaat memiliki kamera ponsel adalah bisa mengabadikan segala tingkah polah hingga tumbuh kembang si kecil. Karena ponsel itu lebih sering dibawa kemana-mana, jadi kita bisa sigap mengabadikan momen lucu atau saat tumbuh kembang si kecil bisa meningkat ke tahap berikutnya.

Bisa mengabadikan momen berharga ini tentu semakin menambah rasa syukur saya. Beruntung sekali saya sebagai ibu, memiliki banyak waktu untuk membersamai mereka. Foto-foto ini juga akan menjadi pengingat ketika kelak mereka sudah tumbuh besar. 

Saya juga senang mengabadikan momen saat mereka tengah asyik bermain bersama teman-temannya. Hasil dari kepoin mereka, biasanya saya malah mendapat ide untuk menulis artikel di blog atau berbagi status di sosial media.

Baca juga : Beri Kesempatan Si Kecil Memecahkan Masalah

Inilah beberapa pelajaran berharga di balik kamera ponsel. Bagi saya, mempunyai ponsel berkamera sudah jadi kebutuhan yang harus diutamakan. Agar foto terlihat bagus dan jelas, tentu memiliki ponsel dengan kamera yang bagus adalah dambaan semua orang, khususnya saya. 

Hanya terkadang, kendala minimnya dana yang jadi penghalang. Bersyukur sekali Mak Uniek mengadakan GA yang hadiahnya HP macam Zenfone Laser 2. Meski belum tentu jadi pemenang, tapi kita semua yang ikutan berhak ngimpi punya Zenfone 2 Laser ZE601KL atau punya Zenfone 2 laser ZE550KL, smartphone keren dari ASUS.

Dilansir dari situs asus.com, ZenFone 2 Laser dilengkapi kamera belakang PixelMaster 13MP dengan apertur lensa f/2.0 yang mampu mengambil foto indah dengan resolusi tinggi tanpa shutter-lag. Kamera belakang ZenFone 2 Laser (ZE550KL) memiliki teknologi otofokus laser untuk gambar yang lebih jernih. Laser di ZenFone 2 Laser mampu mengukur jarak dalam kecepatan cahaya dan menerjemahkan fokus hanya dalam waktu 0.03 detik, terutama di kondisi minim cahaya. Otofokus laser juga bisa mempercepat proses foto close up, dan dibantu pergerakan lensa saat memotret obyek yang lebih jauh.

Mode PixelMaster backlight (Super HDR) secara otomatis mengambil banyak gambar dan memprosesnya menggunakan teknologi ASUS Pixel Enhancing. Ini membuat rentang dinamis meluas sampai 4 kali untuk menghasilkan gambar akhir yang 400% lebih terang, ditambah warna dan detil yang lebih baik, untuk memastikan foto yang Anda ambil dengan cahaya latar yang kuat tetap terlihat alami.

Ini jelas bermanfaat banget untuk saya yang senang mengabadikan momen-momen unik yang sarat akan pelajaran, oleh-oleh dari mengamati sekitar. Apalagi Zenfone 2 Laser ZE550KL ini juga dilengkapi dengan kamera depan 5MP. Mupeng banget kan? Ya, walaupun sampai sekarang ini baru boleh ngimpi dulu. Hehe. 

Yang jelas, betapapun itu, ponsel dengan pixel kamera berapapun, jika kita memanfaatkannya untuk kebaikan atau hal yang bermanfaat lainnya, insyaAllah akan ada keberkahan yang menyertainya. Berkah tak melulu karena kita mendapat hadiah, bisa mengubah orang yang melihat jepretan foto kita, itu sudah menjadi nilai tersendiri, terutama di mata-Nya. Amiin.

Tulisan ini diikutsertakan untuk 'Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by  uniekkaswarganti.com'

Sabtu, 28 Mei 2016


Saya jelas bukan seorang emak hebat. Coba deh, saya disuruh buat kapal-kapalan atau orang-orangan dari kertas, saya pasti akan angkat dua tangan. Nyerah! Betapapun ada yang ngajarin, bukannya bisa, malah tambah bingung sendiri. Bagi mereka mungkin simple, tapi buat saya itu susah sekali. Serius. Hihihi.

Saya di dunia nyata juga hanya emak biasa yang sehari-hari bersama anak-anak di rumah, jarang bepergian,  apalagi ngeksis di luar. Jika melihat tampilan saya di rumah, jelas saya bukan seorang emak fashionista. Mungkin malah, kebalikannya. Karena hanya di rumah, saya biasa menggunakan baju gamis sederhana yang terpolusi bau ASI, bau kompor, bahkan bau ompol. Ya, beginilah saya di balik layar dunia maya.

saya dan smarphone


Lalu bagaimana dengan saya saat menjelajah dunia maya? Oh, jelas sangat berbeda sekali. Saya, seorang emak kucel ini berasa jadi emak "ajaib" ala tokoh kartun favorit yang sekilat berubah dengan kekuatan magic mereka. Jika Doraemon punya kantong ajaib, saya punya smartphone yang mengubah saya jadi emak "ajaib". Saya sengaja memberi tanda kutip pada kata "ajaib" agar para emak tidak salah arti. Ajaib yang saya maksud tentu hanyalah ajaib-ajaiban saja, alias tidak betul-betul ajaib. Heuheu.

Ya, ini semua karena HP android, saya seolah menjadi emak "ajaib" yang bisa berubah menjadi ini dan itu, jauh dari latar belakang saya yang merupakan lulusan dari Fakultas Pertanian. Lima petunjuk ini setidaknya jadi bukti kalau saya seketika akan berubah jadi emak "ajaib".

Bukti pertama : seolah jadi seorang psikolog, nutrisionis hingga praktisi kesehatan!


Apa persepsi orang ketika saya menulis artikel tentang kakak cemburu pada adik atau menjadi orangtua jujur dan amanah bagi si kecil? Mungkin dikiranya saya dari jurusan Psikologi karena saya menulis berdasarkan pengalaman pribadi tanpa copy paste

Atau ketika saya update status tentang mie instan yang katanya mengandung pengawet dan juga lilin di media sosial. Saya berusaha mendobrak isu yang terlanjur ditelan mentah oleh masyarakat ini dengan memuat bagaimana proses mie instan dibuat dengan mencantumkan sumber yang jelas. Saya tidak menduga ketika saya posting ini ternyata banyak teman Facebook yang melayangkan pertanyaan ke saya. Dari mie instan merk apa hingga pada pertanyaan seputar kesehatan seperti gangguan pencernaan, alhamdulillah bisa saya jawab dengan maksimal. 

Saya pun harus berulangkali mengatakan bahwa makan mie instan itu aman asal tidak berlebihan (kalau saran dokter sih, maksimal satu saja karena kandungan natriumnya tinggi) dan harus melengkapinya dengan tambahan protein dan juga sayuran karena kandungan gizi dalam mie instan itu belum cukup memenuhi kebutuhan gizi harian. Sepintas mungkin saya seperti seorang nutrisionis bukan?

Saya memang suka baca, tapi kelemahan saya adalah gampang lupa dengan nama atau istilah tertentu. Akan jadi cobaan bagi saya kalau saya nekat posting tentang minuman teh atau kopi yang tidak disarankan untuk diminum saat sahur karena merupakan jenis minuman diuretik, begitu kata portal online ternama. Sementara selepas nyetatus, ada banyak Facebooker kritis yang siap membantai saya dengan argumen semisal, "Loh, saya cuman minum air putih banyak saja kok masih sering buang air kecil?" 

Dijamin garuk-garuk jilbab dong ya. Bingung euy! Hihihi. Untungnya saya terselamatkan dengan adanya smartphone

Sebetulnya saya sudah punya bekal ilmu tentang minuman diuretik ini sebelumnya. Karena saya ini pelupa, saya harus minta bantuan mbah google untuk mengumpulkan informasi yang lebih solid dan akurat. Saya hanya tinggal menulis kata kunci yang masih saya ingat. Lalu cari artikel yang pernah saya baca atau terkadang menemukan artikel lain sebagai tambahan referensi untuk lebih memperkuat. 

Hasilnya? Ya, saya seolah seperti seorang psikolog, nutrisionis bahkan praktisi kesehatan, walaupun aslinya hanya KW 11. Hahaha. Pun begitu saya bukan pemberi informasi tanpa dasar sumber yang jelas dan asal comot doang, apalagi dari link abal-abal. Saya berusaha maksimal untuk memberikan jawaban yang jelas kepada mereka, dengan pengetahuan yang saya miliki karena hobi membaca. 

Bukti kedua : serasa jadi seorang manajer keuangan di perusahaan!


Sebagai emak erte, saya memegang peran menjadi manajer keuangan keluarga. Dalam menjalankannya saya tidak ingin asal-asalan. Berbahagialah saya yang dari jurusan IPA dan sangat tidak menyukai pelajaran Akuntansi ini terbantu dengan adanya aplikasi keuangan di HP. Sekarang, banyak aplikasi semacam ini yang bisa kita download cepat atau nyari ke Play Store.

Ini aplikasi keuangan yang membuat emak erte macam saya serasa jadi manajer keuangan di perusahaan.

Dari aplikasi tersebut saya bisa membuat laporan keuangan per hari. Karena saya sibuk merawat si kecil yang masih bayi, terkadang saya tidak sempat lagi untuk membuat perencanaan keuangan dengan sangat matang. Tapi setidaknya dengan HP android ini lebih memudahkan saya untuk mengontrolkan pengeluaran. Minimal saya masih sempat untuk merencanakan tabungan harian untuk anak buat biaya sekolah besok, inilah yang utama. Selain itu, saya usahakan agar uang pengeluaran tidak mendekati pemasukan sehingga saya bisa menabung untuk dana masa depan atau bila sewaktu-waktu dibutuhkan dalam keadaan tak terduga (sakit misalnya, dan harus dirawat di rumah sakit), saya tidak akan gelagapan karena bingung harus nyari duit dari mana.

Bukti ketiga : bak reporter atau bahkan seorang detektif!


Pernah satu ketika, di pagi-pagi buta, hujan abu turun menyelimuti daerah Sragen, tempat saya tinggal. Para tetangga ramai beradu argumen. Mereka mulai menduga-duga, abu tersebut berasal dari mana. 

"Ini pasti gunung Merapi meletus," ujar salah satu tetangga.

"Masa' Merapi? Jangan-jangan gunung Lawu aktif lagi," timpal tetangga lain dengan dugaan yang makin membuat panik karena gunung Lawu lebih dekat dengan tempat kami.

Mengobati rasa penasaran mereka, saya langsung ambil HP. Search di Twitter. Saya lihat judul time line beberapa portal online. Ketemu! Gunung Kelud-lah yang meletus hingga angin menerbangkan abunya ke wilayah kami. Begitu tahu berita ini, saya langsung kabarkan kepada mereka. Bak seorang reporter bukan? Ini pula yang akan saya lakukan saat rumah kami tiba-tiba bergerak pelan, sementara para tetangga sudah heboh berlarian keluar rumah dengan diliputi banyak pertanyaan, "Daerah manakah yang gempa?"

Selain jadi reporter berita KW 15, saya juga terkadang jadi seorang emak erte yang kepo dengan sebuah kasus pelik semacam pembunuhan yang tersangkanya sulit terendus polisi atau sudah ditetapkan tapi bagi saya serasa janggal. Seperti kasus Akseyna, mahasiswa UI yang ditemukan mengambang di danau Kenanga UI, Maret tahun lalu. Kasusnya yang begitu misterius ini membuat saya, penyuka cerita detektif, terus mengikuti kasus ini sampai sekarang, terutama dengan mengandalkan tanya pada mbah google.

Untuk melampiaskan unek-unek saya tentang kasus pembunuhan yang semula diduga bunuh diri ini, saya biasa menuliskannya lewat media sosial. Saya nekat menganalisis kasus ini bak seorang detektif, meski kelasnya baru sebatas kacangan. Hahaha. 

Begitu halnya dengan kasus Mirna, Sisca Yofi hingga kasus Feby Kurnia, mahasiswi UGM yang bagi saya masih agak janggal meski sudah ditentukan tersangkanya. Saya hanya penasaran saja dengan kasus tersebut. Pun begitu, bukan wewenang saya untuk menilai kinerja polisi. Kebenarannya seperti apa? Wallahu'alam.

Bak seorang detektif, emak erte kayak saya nekat juga mengulas kasus pembunuhan di media sosial.

Sepintas mungkin saya sok jadi detektif. Analisis saya bisa jadi dinilai masuk akal. Tapi tahukah? Bukan karena saya yang pintar, tapi smartphone-lah yang membuat saya begini. Karena pada kenyataannya, saya juga kepoin TL-nya akun-akun yang berusaha mengupas kasus-kasus ini. Hihihi.

Bukti keempat : mendadak Ustadzah!


Pernah ada teman berdecak kagum dengan saya karena saya bisa mencantumkan hadits shahih dalam tulisan saya. Katanya, "Wah, kamu ini bisa hafal isinya hadits-hadits shahih?"

Lah? Padahal, saya hanya ngetik kata kunci yang saya ingat lalu klik di file chm yang berisi kumpulan brosur-brosur kajian yang membahas tentang bab tertentu, lengkap dengan rujukan ayat dan hadits shahih. Misalnya, saya hendak mencari hadits yang memuat tentang orangtua yang tidak boleh berbohong meskipun pada anak kecil. Saya hanya mengetik kata kunci "kejujuran", beberapa file bermunculan, kemudian saya klik satu per satu, dicari hadits yang senada dengan yang saya cari. Tak butuh waktu lama, hadits-nya sudah ketemu, tinggal copy paste. Pun hanya dengan ayat Al-qur'an.

Tentu saya bisa cepat mencari di HP karena memang sudah saya pelajari sebelumnya. Saya tinggal mengetik kata kuncinya saja. Klik, ketemu! Mudah, bukan? Serasa saya jadi ustadzah dadakan, padahal saya hanyalah seorang emak erte biasa yang selalu mengkaji ilmu.

Bukti kelima : menjelma layaknya pelajar yang meraih prestasi.


Sejak saya punya smartphone, saya baru tahu ada info lomba menulis, blog competition atau giveaway yang berseliweran di dunia maya. Sebelumnya, entah karena jadulnya HP saya atau apa, saya tidak pernah sekalipun tahu ada event-event seperti ini lho! Padahal HP jadul saya juga bisa buat online, meski hanya GPRS. Saya tahu info lomba juga dari Facebook atau Twitter. Aneh kan? Hihihi.

Karena punya smartphone, saya jadi sering ikut lomba beginian. Apalagi sekarang bisa nulis sambil nyusuin, jadi lebih cepat selesainya. Kalau dulu harus nulis di laptop, agak repot karena nggak bisa nulis sambil disambi ASI-in. 

Ngikutin event semacam ini rasanya kita dikembalikan pada masa sekolah dulu. Saat akan ujian, kita dibuat kelabakan karena sistem belajarnya SKS alias sistem kebut semalam. Kita makin panik saat teman-teman yang lain kelihatan menguasai bab yang akan diujikan. 

Ketika ujian berlangsung, tengok kanan kiri, semua pada kelihatan pintar mengerjakan soal. Alhasil, makin khawatirlah kita. Di sisi lain kita juga bermimpi mendapat ranking tiga besar atau paling tidak sepuluh besar karena kita masuk kelas favorit.

Saat penerimaan rapor, kita dibuat deg-deg-an. Apa kita masuk tiga besar, lima besar atau sepuluh besar? Atau malah, tidak sama sekali?

Begitu halnya saat kita mengikuti kompetisi blog atau giveaway. Kalau kita coba bijak menyikapi, andai kita bukan pemenang sekalipun, sesungguhnya kita sudah masuk dalam barisan pejuang. Ya, karena kita sudah berjuang maksimal mengerahkan potensi yang kita miliki.

Andai kalah, ambil positifnya. Kita makin terasah kemampuan menulis, berbagi manfaat sekalian nambah postingan blog, termotivasi untuk terus belajar, kenal dengan blogger lain yang ngikutin kompetisi, pengunjung blog makin banyak dan sebagainya.

Walau kita jelas mupeng juga dengan hadiahnya. Apalagi giveaway kolaborasi Eliska Shop dan IDCopy ini hadiahnya bikin blogger pada kepingin ikutan. Hadiah pertama saja smartphone ASUS Zenfone Go ZC451TG. Siapa yang nggak mupeng? Ada tambahan dompet impor lagi. Jujur ya, saya saat ini nggak punya dompet. Kalau nyimpan SIM, KTP, ATM nebeng di dompet suami. Secara saya memang nggak kemana-mana. Kalau bawa uang, paling cuman dikantongin doang pas lagi ke pasar. Hahaha, kok saya malah curcol gini?

Yang pasti, jangan jadikan hadiah sebagai alasan utama. Menjadi pemenang itu prestasi. Dan hadiah hanyalah bonus dari prestasi yang kita raih. Bangga rasanya, kita yang sudah emak erte ini terus mengukir prestasi meski ranahnya dalam sebuah kompetisi blog atau bahkan giveaway.

Nah, inilah lima bukti yang menunjukkan saya yang seorang emak erte kucel ini bisa mendadak jadi emak "ajaib" karena bantuan smartphone. FYI ya, Mak. Saya bisa beli smartphone dari mengumpulkan uang sepuluh ribu per hari di celengan.

Buat mereka, untuk beli HP android seharga satu jutaan amatlah mudah. Tapi bagi saya, jelas saya harus memikirkan kebutuhan lain yang dinilai lebih prioritas. Makanya, biar ringan, saya harus sabar untuk disiplin nyelengin selama beberapa bulan. Inilah mengapa saya harus memanfaatkan HP ini dengan sebaik-baiknya, dengan sesuatu yang mengandung manfaat, dan memangkas hal yang sia-sia apalagi yang maksiat. Semoga bermanfaat.


"Lomba ini diselenggarakan oleh IDCopy.net dan Eliska.id"

*alhamdulillah artikel ini nyempil juga di juara favorit :)

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!